LAPORAN AKHIR

KEMAJUAN PELAKSANAAN KEGIATAN IPTEKDA LIPI 2016

 

 

 

 

 

PENERAPAN TEKNOLOGI PAKAN MURAH DAN PERBAIKAN KUALITAS AIR UNTUK MENDUKUNG INTENSIFIKASI BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR  DAN MENDORONG PENINGKATAN NILAI JUAL BAGI UMKM POKDAKAN MASAGENA DESA RAKAWUTA  KABUPATEN KONAWE SELATAN

 

 

 

Lembaga Pengusul      :

Nama                           :  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas

Halu Oleo

 

 Alamat                         : Jl. HEA Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridharma   Anduonohu   Kendari

 

Telepon                       : (0401) 3193782

Faksimile                    : (0401) 3193782

E-mail                        : unhalufpik@ymail.com

 

 

KENDARI

30 NOVEMBER  2016

LEMBAR  PENGESAHAN LAPORAN TAHAP  II

KEGIATAN IPTEKDA LIPI

 

 

Judul Kegiatan

:

 

Penerapan Teknologi Pakan Murah  dan Perbaikan Kualitas Air untuk Mendukung Intensifikasi Budidaya Ikan Air Tawar dan Mendorong Peningkatan Nilai Jual Bagi UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta Kabupaten Konawe Selatan

 

Sifat Kegiatan

:

Baru

 

Lokasi Kegiatan

:

Desa Rakawuta Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan

 

Lembaga Pelaksana

:

 

·      Nama Satuan Kerja

:

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas

Halu Oleo

·      Alamat

:

Jl. HEA Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridharma   Anduonohu   Kendari

·      Telepon

:

(0401) 3193782

·      Faksimili

:

(0401) 3193782

·      Email

:

ilmibahrain02@gmail.com

·      Biaya Kegiatan Tahap II

:

Rp. 42.000.000 dari Total  Rp. 140.000.000

 

 

 

 

 

 

 

                 Kendari,  15  September 2016

 

Menyetujui,

 

 

 

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  Universitas Halu Oleo

 

 

 

 

 

 

 

Prof. Ir. H. La Sara, MS.,Ph.D

NIP. 19600422 198703 1 003

Koordinator  Lapangan

 

 

 

 

 

 

 

 

Abdul Muis Balubi. S.Pi.,MP

NIP. 19691231 200502 1 032

 

 

 

 

 

I.    RINGKASAN EKSEKUTIF

Penerapan teknologi pakan murah  dan perbaikan kualitas air untuk mendukung intensifikasi budidaya ikan air tawar dan mendorong peningkatan nilai jual bagi UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta Kabupaten Konawe Selatan bertujuan untuk meningkatkan jumlah produksi hasil panen ikan biomassa dan olahan setelah input teknologi  pakan, perbaikan kualitas air dan pengolahan tanah dasar, dengan biaya produksi lebih rendah,  waktu pemeliharaan lebih pendek, dan menghasilkan keuntungan yang lebih optimal. Pemilihan teknologi ini dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat penghasilan petani ikan, yang berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan pokok standar sandang dan pangan, terganggunya  pendidikan dan kesehatan keluarga, dan keperluan sosial budaya kelompok, sementara potensi untuk dikembangkan terbuka luas. Potensi kolam  Pokdakan Masagena cukup luas dengan kolam 1,7 Ha milik ketua, sedangkan anggota meliki sedikitnya 0,25 Ha per orang.  Komoditas ikan air tawar seperti ikan lele dan mas merupakan 2 spesies ikan memiliki nilai ekonomis tinggi,  andalan disektor perikanan tawar dan sudah banyak digemari masyarakat Sulawesi Tenggara.  Ikan lele sebagai salah satu sumber protein hewani memiliki banyak kelebihan pada saat dibudidayakan meliputi  padat tebar benih dalam jumlah besar atau dapat dipelihara pada luasan area yang sempit, tahan terhadap perubahan lingkungan, dan pemakan segala. Masalah yang dihadapi adalah teknologi yang masih rendah dan akses modal usaha terbatas.

Teknis pelaksanaan kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut menerapkan teknologi pakan murah,  dengan menghimpun  bahan-bahan baku berkualitas dengan menggunakan mesin penepung yang halus agar mudah dicerna ikan. Pencampuran pakan disesuaikan dengan SOP pabrik pakan dan kandungan protein didasarkan bahwa untuk pembesaran minimal protein 28 %. Adapun  kandungan protein pakan ikan mas sebesar 31,73% dan ikan lele 31,53%. Kesuksesan kegiatan produksi ikan air tawar ditentukan oleh 4 faktor  utama yaitu: pengelolaan kualitas air secara tepat, pemberian pakan berkualitas, pengendalian hama dan penyakit  dan kemampuan teknis/ personalia  dalam penguasaan teknologi akuakultur.  Pengelolaan air dari alam untuk budidaya ikan dengan menggunakan tandon untuk menghasilkan air bermutu. Prinsipnya adalah penyaringan air dan sistem pengadukan secara gravitasi bumi untuk menghasilkan air dengan kelarutan oksigen tinggi. Hal penting juga menghindarkan ikan dari partikel lumpur dan debu yang mengganggu pada proses biologi pertumbuhan. Mencegah masuknya organisme  pengganggu sebagai pesaing dan predator ikan peliharaan UMKM. Jadwal kunjungan Tim Pelaksana Kegiatan ke UMKM rutin setiap hari Sabtu dan Minggu, namun secara isidentil setiap saat. Agar pertumbuhan benih maksimal maka air yang digunakan merupakan jasil treatment, sehingga kondisi air dalam keadaan prima.

Untuk mengatasi keterbatasan daya serap pasar terhadap produksi ikan lele maka dibuat olahan berupa kerupuk dan keripik ikan lele. Kerupuk dan keripik ikan lele merupakan hidangan siap saji. Produk tersebut cukup digemari oleh masyarakat mengingat tampilan dan rasanya yang menarik.

Pelaksanaan usaha dan perkembangannya  dimulai dengan sosialisasi dan fokus grup diskusi tim dan personil Pokdakan.  Hasil capaian tahap ini yaitu pengadaan peralatan dan bahan-bahan  introduksi teknologi menunjukkan perkembangan yang berarti. Peralatan mesin pencetak pellet dan penepung didatangkan dari Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat dengan kapasitas cetak 50 kg per jam. Peralatan lain berupa baskom pencampur pakan kapasitas 20 kg 2 buah, ember penadah tepung kapasitas 15 kg, nyiru  pengering anginkan pellet dan tepung 10 buah dan karung kemasan.  Bahan-bahan pembuatan pakan menghasilkan 200 kg dedak halus, 200 kg tapioka, 40 kg tepung ikan, 40 kg bungkil, 200 kg keong emas, 2 kg vitamin miks, dan 0,8 kg mineral. Dari sejumlah bahan tersebut telah dicetak sekitar 800 kg pakan untuk benih, gelondongan, dan pembesaran. Untuk memudahkan kelompok tani mendapatkan tepung bahan-bahan pakan yang lebih halus maka diadakan mesin penepung untuk menghindari kelompok tani ketergantungan pada jasa penggilingan tepung. Kepantasan ini diperkuat bahwa pengolahan bahan pakan ikan secara khusus di daerah ini belum ada. Dari fasilitas tersebut pada tahap I ini ditebar benih ikan lele sebanyak 6.800 ekor dan ikan mas sebanyak 3.800 ekor benih. Pakan yang dihasilkan untuk 2 jenis ikan ini dibedakan oleh ingradient yaitu pakan ikan ikan mas ditambah 20% tepung jagung sedangkan ikan lele tanpa tepung jagung.

 

 

 

 

II.                KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan RahmatNya sehingga laporan hasil kegiatan tahap akhir Iptekda XIX Tahun 2016 ini dapat diselesaikan dengan baik. Penerapan teknologi pakan murah  dan perbaikan kualitas air dalam mendukung intensifikasi budidaya ikan air tawar dan mendorong peningkatan nilai jual bagi UMKM Pokdakan Masagena ini diawali dengan keprihatinan tidak berkembangnya kegiatan akuakultur akibat mahalnya harga pakan yang mengganggu sistem produksi dan pemasaran hasil. Selain pakan, masalah pengelolaan kualitas air juga menjadi kendala dalam pengembangan budidaya ikan air tawar. Untuk mengatsi keterbatasan minat masyarakat mengkonsumsi ikan lele maka dibuat produk olahan berupa abon dan keripik ikan lele.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat dan menjaga ketahanan pangan nasional, maka budidaya ikan air tawar menjadi solusi yang baik. Budidaya ikan ini dapat mengantisipasi kebutuhan ikan akibat perikanan tangkap tidak mampu memasok kebutuhan ikan masyarakat. Perikanan tangkap telah mengalami over fishing akibat perburuan yang tidak terkendali. Difersifikasi bahan pangan merupakan pilihan untuk mengatasi krisis ekonomi seperti yang pernah mendera bangsa Indonesia tahun 1998.

Penerpan teknologi pakan murah UMKM Pokdakan Masagena akan mampu mengurangi  biaya produksi khususnya bahan pakan hingga 50 %. Menurunnya biaya produksi ini dapat membantu menurunkan harga ikan hasil produksi hingga dapat dijangkau banyak kalangan. Untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap ikan air tawar, salah satunya dengan menurunkan harga jual, namun tetap memberikan keuntungan yang berkesinambungan.

Untuk menjaga mutu air media selama pembudidayaan ikan, dilakukan pengolahan air untuk memenuhi standar kualitas air. Pemanfaatan air di alam secara bebas telah membawa dampak konflik horisontal. Pembudidaya ikan diharapkan memiliki saluran air tersendiri untuk memenuhi kebutuhan air tawar.

Dengan semangat pemanfaatan pakan murah dan pengelolaan air secara bijaksana maka akan membawa semangat baru pada para pembudidaya ikan. Produksi ikan yang melimpah perlu dilakukan penanganan pascapanen untuk menjaga mutu dan kontinyiutas produksi.

Kami sadar tidak ada gading yang tak retak,  tidak ada hasil pekerjaan yang sempurna selain milikNya, maka kritikan dan masukan yang sifatnya konstruktif senatiasa kami harapkan untuk perbaikan Laporan Hasil Tahap Akhir ini. Demikian, Wassalam.

 

Kendari, 30 November  2016

 

Tim Pelaksana Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III.  PENDAHULUAN

3.1.  Analisis Situasi

Kegiatan usaha budidaya ikan air tawar di Desa Rakawuta dan Desa Mataiwoi Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan  sudah  sangat  lama dilakukan namun belum mampu merubah  taraf  hidup anggota UMKM Masagena. Dalam perkembangan kegiatannya sudah dilakukan pula kegiatan difersifikasi akuakultur dengan menambah komoditas berupa ikan  mas, lele, gurame, nila,  bawal, dan patin, namun lagi-lagi tidak membawa perubahan yang berarti bagi peningkatan pendapatan petani karena teknologi yang digunakan sangat sederhana.  Kegiatan usaha akuakultur ini tidak berkembang disebabkan oleh daya saing yang masih rendah, teknologi yang digunakan sebagian besar masih tertinggal, akses terhadap informasi  terbatas,  dan rendahnya kemampuan manajemen usaha. Dari potensi perikanan yang dimiliki oleh kedua UMKM ini cukup besar karena setiap anggota rata-rata memiliki luasan kolam air tawar untuk kegiatan pembesaran.

Komoditas ikan lele dan ikan mas merupakan 2 spesies ikan memiliki nilai ekonomis tinggi, merupakan komoditas andalan disektor perikanan tawar dan sudah banyak digemari masyarakat Sulawesi Tenggara.  Ikan lele sebagai salah satu sumber protein hewani memiliki banyak kelebihan pada saat dibudidayakan meliputi  padat tebar benih dalam jumlah besar atau dapat dipelihara pada luasan area yang sempit, tahan terhadap perubahan lingkungan, dan pemakan segala. Budidaya ikan mas mudah dilakukan asalkan kualitas air optimal, kedalaman cukup, sistem air mengalir, pakan yang diberikan cukup dan bergizi tinggi, serta dihindarkan dari gangguan hama dan penyakit.

Ikan lele memiliki rasa daging yang gurih dan lembut, memiliki kandungan protein dan lemak yang tinggi sehingga banyak diinati masyarakat. Sedangkan ikan mas selain sebagai sumber protein hewani, memiliki kandungan hormon yang dapat memperkuat fitalitas, sebagai ikan hias, dan salah satu komoditas pemancingan bagi kegiatan wisata ria dihari libur.

Produksi dan pemasaran ikan air tawar oleh UMKM Masagena Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan saat ini belum memenuhi target sesuai kebutuhan pasar lokal, regional dan nasional. Kendala modal usaha, dan penerapan   teknologi    yang   digunakan    masih sederhana.       Melihat potensi lahan dari UMKM  ini cukup besar dengan luas kawasan  budidaya seluas 1,7 Ha. Selanjutnya sarana  kegiatan akuakultur  yang      dimiliki oleh  UMKM  ini sangat tertinggal,   manajemen    dan    teknologi       yang    digunakan   masih   sangat sederhana.   Setiap     anggota    kelompok    rata-rata     memiliki     petakan    pembesaran   ikan, sementara   ketua   kelompok   memiliki   petakan   pembesarana  3 unit dengan luas berkisar 0,3 -0,5 Ha, petakan-petakan pembenihan, petakan induk, petakan benih, petakan pendederan.

Kemampuan produksi ikan konsumsi dari UMKM ini hingga saat ini  baru mencapai 180 kg  per masa pemeliharaan (per 4-5 bulan). Ikan hasil produksi dipasarkan pada   konsumen di daerah Sulawesi Tenggara terutama daerah Konawe Selatan, kota Kendari, Konawe, Kolaka, Muna, Buton, dan sekitarnya. Harga produksi ikan lele dan ikan mas sangat bervariasi tergantung dari kondisi pasar berkisar Rp. 12.000- 15.000 untuk ikan lele dan ikan mas Rp. 35.000 per kg. Rendahnya produksi ikan lele dan ikan mas  disebabkan oleh penerapan  teknologi yang rendah baik teknologi pakan maupun teknologi pengolahan air media, serta belum adanya pengendalian hama dan penyakit.  Harga  pakan ikan di pasaran sangat mahal mengakibatkan tidak seimbangnya antara biaya produksi dan hasil jual produksi ikan lele dan ikan mas. Harga pakan mencapai 10.000-12.000 per kg namun efisiensi pakan tidak dapat dijamin. Mahalnya harga pakan menyebabkan pembatasan pemberian pakan pada ikan peliharaan akibatnya pertumbuhan ikan menjadi terhambat. Petani membiarkan ikan peliharaan mencari makan secara alami dengan jumlah yang sangat terbatas, sehingga berakibat pada rendahnya hasil produksi.   Berdasarkan hasil pantauan Tim Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UHO dilapangan rata-rata konversi pakan komersil dari berbagai produk untuk ikan air tawar mencapai angka  5-7. Artinya untuk menghasilkan berat ikan lele ataupun ikan mas 1 kg maka pakan yang harus diberikanan sebesar 5-7 kg itupun masih ditunjang makanan alami.  Mengingat harga jual produksi ikan dan harga beli pakan tidak seimbang maka pastilah petani ikan yang dirugikan. Pantas saja jika petani menggantungkan pakan ikannya pada keadaan makanan di alam yang jumlah dan jenisnya tidak dapat terukur dan dikendalikan. Bagi petani ikan ini pakan toko (pabrikan) terutama untuk adaptasi dan sekedar agar ikannya hidup. Mengamati jumlah produksi ikan lele dan ikan mas yang dihasilkan dari kedua UMKM ini masih sangat rendah, maka diperlukan upaya peningkatan produksi. Dari besarnya jumlah potensial kolam ikan yang dimiliki di atas maka   UMKM Masagena ini   menargetkan produksi ikan mas 1.500 kg  dan ikan lele 6.000 kg per siklus  (120-150 hari) dengan cara panen selektif. Target tersebut diharapkan dapat merubah  pendapatan kelompok tani ikan sehingga gilirannya menambah jumlah penduduk makmur di daerah. Karena daerah Kabupaten Konawe Selatan sangat potensi dengan pengembangan ikan air tawar maka diharapkan kegiatan IPTEKDA LIPI Tahun 2016  ini menjadi percontohan (demontrasi pond) bagi petani ikan disekitarnya. Kabupaten Konawe Selatan memiliki Rawa Aopa sekaligus Taman Nasional atau daerah konservasi sumberdaya alam terluas di daerah Sulawesi Tenggara letaknya di Kecamatan Angata daerah tetangga Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. Selain Taman Nasional Rawa Aopa Konawe Selatan juga memiliki Sungai Lapoa yang sangat potensi bagi pengembangan ikan air tawar.

Kesuksesan kegiatan produksi ikan mas dan ikan lele ditentukan oleh 3 (tiga)  faktor  utama yaitu:

Pertama, pengelolaan kualitas air secara tepat. Keberhasilan kegiatan budidaya ikan ini  sangat ditentukan oleh kualitas air. Mutu air tawar di alam sangat rendah aibat pencemaran dan rusaknya lingkungan hidup, sehingga diperlukan pengendalian mutu air melalui kegiatan tandon dan penyaringan berbagai material termasuk organisme pengganggu.   perlakuan air yang tepat terutama untuk memisahkan partikel lumpur, kotoran, dan benda asing lainnya yang berbahaya bagi kehidupan benih ikan. Ikan air tawar secara umum memerlukan kedalaman tertentu dan sistem air mengalir, terkecuali bagi ikan lele sehingga potensi bagi pengembangan budidaya ikan lele sangat terbuka luas, namun perlu suplai pakan yang berkualitas, jumlahnya cukup, dan secara kontinyu. Mutu air sangat diperlukan mengingat kemampuan benih sangat bervariasi toleransinya terhadap lingkungan perairan sehingga diperlukan kualitas air yang prima.  Khusus ikan mas diharapkan dibentuk sistem air mengalir dengan mempertimbangkan keseimbangan debit air yang masuk dan keluar dengan kedalaman air optimum.

Kedua, pemberian pakan berkualitas dalam jumlah yang cukup dan kontinyu sesuai fase pertumbuhan ikan peliharaan. Pakan buatan yang digunakan dalam pengelolaan budidaya ikan lele dan ikan mas selama ini masih tergantung pada pakan pabrikan. Kondisi ini menyebabkan harga pakan cukup mahal, hingga berimplikasi pada tingginya biaya dalam mengoperasikan budidaya ikan UMKM Masagena.  Oleh karena itu, diperlukan kreatifitas dan inovasi baru berupa substitusi  pakan pabrikan tersebut baik sebahagian maupun secara keseluruhan dengan pakan lokal/buatan sendiri. Pakan buatan lokal dengan bahan dasar tepung ikan (lokal), sari pati dedak halus (lokal), tepung tapioka (lokal), keong emas (lokal), bungkil minyak (lokal), vitamin miks, mineral miks (apotik lokal). 

Ketiga, kemampuan teknis personalia  dalam penguasaan teknologi akuakultur meliputi pengelolaan air secara tepat, penanganan benih, dan gelondongan. Penanganan pakan, pencegahan masuknya penyakit, kegiatan panen, keakuratan penghitungan jumlah produksi dan kemahiran penguasaan pasar terutama net working lokal, regional, nasional, bahkan pasar internasional. Ketiga faktor di atas merupakan kendala utama  dari  UMKM Masagena Desa Rakawuto, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara dalam penguasaan teknologi akuakultur saat ini. Optimalisasi kegiatan budidaya ikan lele dan ikan mas oleh UMKM mitra dapat dilakukan secara tepat bila ada penguatan modal untuk mengoptimalkan pengelolaan pada aspek pengelolaan air, pencegahan dan penanggulangan hama penyakit, penanganan pakan benih, pakan ikan gelondongan, seleksi dan pengelompokan ukuran, pakan ikan masuk size,  dan  manajemen usaha. Oleh karena itu,  penguatan modal sangat diperlukan untuk menunjang  keberhasilan produksi dari UMKM Masagena.

 

3.1.1.   Profil UMKM yang Dilibatkan dan Instansi Pendamping

UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta  telah lama melakukan kegiatan budidaya ikan air tawar. Karena pokdakan ini cukup aktif dalam menggiatkan budidaya ikan air tawar maka kelompoknya beberapa kali  mampu mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara di tingkat nasional dalam kegiatan lomba budidaya ikan.  Walaupun sudah mengikuti lomba budidaya ikan tingkat nasional namun lagi-lagi hasil produksi masih rendah akibat teknologi dan modal usaha yang masih rendah. UMKM pokdakan Masagena ikan mas dan ikan lele ini berkedudukan di Desa Rakawuta Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. Kegiatan usahanya meliputi pembenihan dan pembesaran ikan lele, pembesaran ikan mas, pernah mengembangkan ikan nila. Jumlah produksi ikan mas dan ikan lele segar untuk semua anggota kelompok yang pernah dicapai selama 1 siklus (5 bulan)  200 – 300 kg ikan mas dan ikan 400 – 700 kg ikan lele. Jumlah produksi  ini relatif masih sangat rendah dibanding potensi yang dimiliki anggota Pokdakan Masagena.  Adapun struktur personalia UMKM Pokdakan Desa Raka Wuta  ini disajikan pada Gambar 1 berikut :

 

BINAAN

FPIK UHO

KETUA KELOMPOK

SARPIN

 

 

 


TEKNISI

SUHARDIN

BENDAHARA

SITI ROHANI

PEMASARAN

HALIM

 

               

 

ANGGOTA

SURIP

 

PEMBANTU TEKNISI

MASTUR

                                                         

 

ANGGOTA

DEDEN DAHRIA

 

ANGGOTA

AYI

 

ANGGOTA

PAIJO

 

ANGGOTA

SADE R

 

 

 

 

 


Gambar 1. Struktur organisasi personalia UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta

Kehadiran UMKM  Pokdakan Masagena Desa Rakawuta ini telah menambah spirit baru bagi pengembangan budidaya ikan air tawar khususnya ikan mas dan ikan lele daerah Sulawesi Tenggara. UMKM Pokdakan Masagena Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan telah menampilkan keterampilan budidaya ikan air tawar level nasional walaupun produksinya masih rendah. Diharapkan Program IPTEKDA LIPI Tahun 2015 menjadikan Pokdakan Masagena ini semakin memiliki keterampilan yang memadai sehingga menghasilkan produksi maksimal baik bentuk segar maupun hasil olahan. Selanjutnya UMKM mitra Iptekda ini menjadi petani ikan unggulan nasional.

 

3.1.2.       Instansi pendamping dan perannya

a.       Pengusul kegiatan ini adalah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo (FPIK UHO). Lokasi kegiatan IPTEKDA yang diusulkan Desa Rakawuta Kecamatan Mowila Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan merupakan desa binaan FPIK Universitas Halu Oleo. Dengan demikian sebagai lembaga penghasil ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan diintroduksikan, kebutuhan bantuan teknologi dan manajemen usaha budidaya ikan air tawar dan kegiatan pengolahan  bagi UMKM binaan IPTEKDA LIPI di lokasi tersebut merupakan tanggungjawab FPIK Universitas Halu Oleo  pula.  Adapun struktur organisasi tim pengusul FPIk UHO pada Penerapa Teknologi Pakan Murah dan Perbaikan Kualitas Air untuk Mendukung Intensifikasi Budidaya Ikan Air Tawar dan Mendorong Peningkatan Nilai Jual UMKM Pokdakan Masagena ini adalah :

 

Koordinator Lapangan

Abdul Muis Balubi

Penanggungjawab

Dekan FPIK UHO

 

 

 

 


Anggota/Teknisi

Ngadyo, S.Pi.,M.Si

Anggota

Ruslaini, S.Pi.,M.Si

               

Anggota

Irdam Riani, S.Pi.,M.Si

 

 


                                         

Kelompok Mahasiswa yang terlibat :

Surahman Suwardi

Ardila

Sadam

Irman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 2. Struktur Tim Pengusul personalia FPIK UHO

 

b.      Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe Selatan  khususnya Kepala Dinas dan Kepala Bidang Perikanan Budidaya bertindak sebagai pembina melalui kegiatan Bidang Perikanan Budidaya dan Penyuluh Perikanan. Kabupaten Konawe Selatan sebagai daerah terdepan penggagas Program Minapolitan di Sulawesi Tenggara memfokuskan pada peningkatan produksi perikanan budidaya termasuk perikanan air tawar sangat selaras dan berkompilasi dengan program IPTEKDA XIX LIPI 2016. Sejak dicanangkan program minapolitan nasional tahun 2006 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Konawe Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan telah banyak memberikan sumbangan pemikiran agar Indonesia menjadi penghasil perikanan terbesar di dunia khususnya perikanan budidaya.  Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe Selatan memiliki salah satu misi dalam pembangunan perikanan budidaya adalah mewujudkan perikanan yang tangguh dengan meningkatkan hasil produksi perikanan budidaya sebagai antisipasi menurunnya potensi perikanan tangkap akibat overfishing. Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani ikan air tawar UMKM Desa Rakawuta, memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, dan ikut memperkuat ketahanan pangan nasional maka Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe Selatan  mengharapkan  UMKM Budidaya Ikan Air Tawar Desa Rakawuta  mampu memberikan peran yang berarti bagi pembangunan perikanan budidaya di Kabupaten Konawe Selatan khususnya dan Provinsi Sulawesi Tenggara umumnya. Sebagai gambaran lokasi budidaya ikan air tawar Kabupaten Konawe Selatan tersebar luas di Taman Nasional Rawa Aopa Kecamatan Angata, Desa Lapoa Kecamatan Tinanggea, Kecamatan Mowila, Kecamatan Ranomeeto Barat, Kecamatan Ranomeeto, Kecamatan Wolasi, Kecamatan Konda, Kecamatan Laeya, Kecamatan Lainea baik potensi maupun potensial merupakan andalan daerah. Dengan hadirnya program IPTEKDA LIPI 2016 Desa Rakawuta Kecamatan Mowila diharapkan menjadi percontohan (dempond) bagi daerah disekitarnya.

 

Latar belakang calon mitra kerja sangat sesuai dengan kegiatan skim ini. UMKM yang dibina Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UHO merupakan kelompok pembudidaya ikan air tawar khususnya ikan mas dan ikan lelel. Ketua kelompok Pokdakan Masagena yaitu Sarpin adalah sang juara budidaya ikan air tawar tingkat nasional di Provinsi Sulawesi Utara. Sudah puluhan tahun telah menekuni usaha budidaya ikan air tawar baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran. Anggota kelompok, teknisi, pembantu teknisi semuanya memiliki kolam ikan air tawar dan sudah terbiasa dengan usaha budidaya ikan air tawar. Anggota kelompok budidaya ikan air tawar ini sebahagian adalah masyarakat transmigrasi dari pulau Jawa yang sudah pengalaman dalam kegiatan budidaya ikan air tawar. Sementara Ketua UMKM Budidaya Ikan Air Tawar Sejahtera Bapak Nasrun Kalenggo mantan Kepala Desa Mowila (sebelum mekar jadi kecamatan Mowila) memiliki lahan yang sangat potensi dengan pengembangan budidaya ikan air tawar. Jadi dalam pengembangan program IPTEKDA LIPI Tahun 2016 diyakini akan berhasil dengan adanya pakan murah, pengolahan air media dan pengembangan prodiksi ikan olahan.

 

 

 

 

3.2. Perumusan Masalah

Permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan air tawar di Kabupaten Konawe Selatan khususnya Pokdakan Masagena Desa Rakawuta adalah harga pakan yang mahal tidak seimbang antara cost dan nilai penjualan hasil panen. Banyak petani berspekulasi dengan menebar benih ikan lele dan ikan mas, dan memberinya pakan komersil dengan harga 10.000-15.000 per kg. Konversi pakan mencapai 1:3  hingga 1:4, artinya untuk menghasilkan produksi ikan 1 kg diperlukan pakan 1-4 kg. Harga penjualan ikan lele Rp. 20.000-25.000 per kg. Jika kondisinya demikian maka petani tidak akan kembali modal. Setelah pakan habis maka petani menghentikan pemberian pakan, yang terjadi ikan peliharaan menjadi kurus, dan sudah pasti menimbulkan kerugian.

Ikan yang dibudidayakan setidaknya mendapatkan suplai pakan yang mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral yang tersedia di alam dengan harga relatif murah. Bahan-bahan tersebut cukup banyak tersedia di daerah ini seperti dedak atau katul, tapioka, jagung, keong emas, tepung ikan, minyak sayur. Namun tidak tersedia mesin pengolah tepung dan mesin pencetak pellet. Petani juga tidak memiliki kemampuan dalam mengelola bahan tersebut. Khusus keong emas ini menjadi musuh berat petani padi di sawah, karena dapat merusak tanaman padi.

Dengan semakin meningkatnya pemanfaatan lahan untuk perkebunan khususnya kelapa sawit mengakibatkan air yang masuk di saluran menjadi keruh, sehingga tidak baik bagi kehidupan ikan peliharaan. Jika hal ini terus berlangsung maka akan berdampak pada krisis air budidaya terutama dimusim kemarau. Untuk mengatasi air keruh yang berlebihan diperlukan tandon untuk mengurangi kadar kekeruhan yang berlebihan. Sedangkan untuk mengatasi keringnya sumber air dimusim kemarau diperlukan sumber air baru baik artesis maupun sumur bor dibantu mesin penarik air.  

Selain masalah produksi ikan segar juga ditemukan masalah pemasaran hasil panen yang tidak tersedia. Ikan budidaya sudah memasuki ukuran konsumsi, namun pasar tak kunjung dating. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan industri pengolahan untuk difersifikasi bahan pangan yang lebih menarik. Bahan pangan yang menarik ditentukan oleh kualitas olahan yang baik, performa, bau khas, dan rasa yang lezat. Selanjutnya kemasan produksi yang fod savety menjadi jaminan konsumen yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

 

IV. PELAKSANAAN TEKNIS

4.1.  Teknologi yang Diintroduksi

4.1.1. Deskripsi kegiatan

Kegiatan penerapan teknologi ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan meliputi:

a.       Sosialisasi kegiatan pada Kelompok Binaan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo adalah UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan.

b.      Penyediaan modal awal berupa pembiayaan bahan baku seperti pembelian bahan-bahan kelengkapan nutrisi pembuatan pellet, pakan benih (pakan awal), mesin pencampor dan pencetakan pelet, sarana prasarana pembesaran, peralatan panen, dan pengolahan serta kemasan, peralatan pengolahan dan jaminan mutu air. Bagi produksi olahan ikan konsumsi asyarakat akan bekerja sama dengan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Provinsi Sulawesi Tenggara tentang keamanan produksi pangan. Biaya kegiatan diharapkan  yang bersumber dari biaya sharing dari  koordinator dan UMKM mitra.

c.       Bimbingan teknis penyediaan bahan-bahan baku sumber nutrisi lengkap dan proses pembuatan pakan,  budidaya ikan air tawar khususnya lele dan ikan mas, teknologi pengolahan, dan manajemen pemasaran yang meliputi :

Ø  Bimbingan teknis pembuatan pakan ikan lele dan ikan mas meliputi pemilihan bahan baku meliputi tepung ikan, daging keong emas, katul (dedak halus), tepung tapioka, minyak ikan, vitamin mix, dan mineral mix.

Ø  Bimbingan teknis budidaya ikan lele, budidaya ikan mas, produk olahan, dan manajemen usaha. Penataan organisasi personalia budidaya dan pengolahan ikan lele yang meliputi ketua kelompok UMKM, sekretaris, bendahara, seksi produksi, seksi pengolahan, seksi pemasaran, anggota, dan umum.

Ø  Bimbingan pemeliharaan mesin penarik air berupa alkom, mesin pencetak pelet, dan peralatan penunjang lainnya.

Ø  Bimbingan pengelolaan budidaya ikan lele meliputi penguatan pematang, perbaikan saluran air, pintu air, pengolahan tanah dasar kolam, pembentukan kualitas air media, penanganan benih, manajemen pengelolaan pakan, pengendalian hama dan penyakit, kegiatan pembesaran, sarana panen, dan  estetika akuakultur.

Ø  Bimbingan teknis pengelolaan budidaya ikan mas sama dengan ikan lele di atas yang beda pada ikan mas dibuat instalasi air mengalir (masuk dan keluar dengan debit sama), pada fase pertumbuhan dan untuk memperbaiki performa ikan  diberi pakan mengandung protein cukup dan lemak esensial tidak jenuh.

Ø  Bimbingan kegiatan pembesaran meliputi pengelolaan kualitas air, pemilihan benih yang berkualitas dengan jumlah yang cukup untuk intensifikasi,  pemberian pakan, pengendalian hama dan penyakit, dan strategi panen total dan selektif.

Ø  Bimbingan peningkatan mutu air melalui kegiatan water treatment, flow chanel, dan pemanfaatan limbah organik penumbuh plankton.

Ø   Bimbingan pengolahan ikan lele meliputi penyediaan bahan baku seperti ikan lele ukuran super, peralatan pembersihan kotoran dan usus ikan, peralatan dan bahan penyedap rasa, arang tempurung kelapa, sabuk kelapa, dan instalasi pengasapan.

Ø  Bimbingan kegiatan pembesaran ikan mas untuk kebutuhan wisata pemancingan, akuarium dan konsumsi pemenuhan protein hewani.

Ø  Bimbingan manajemen keuangan UMKM bagi pengelolaan budidaya ikan lele, ikan mas, dan pengolahan ikan lele pada berbagai segmen pasar.

d.    Monitoring dan evaluasi kegiatan produksi dan pemasaran.

 

4.2. Uraian tentang  alasan pemilihan teknologi yang akan diintroduksi

             

 

        4.2.1. Teknologi proses produksi yang akan digunakan

a.         Pengolahan air media akuakultur bermutu tinggi

Sistim pengelolaan kualitas air  yang dintroduksi dalam kegiatan ini disesuaikan dengan kondisi topografi dan sumber air yang tersedia di lokasi UMKM Pokdakan Masagena.  Pengolahan air berupa water treatment adalah dengan melakukan pengendalian terhadap mutu air meliputi pemisahan fisik material seperti pembuatan tandon, pemanfatan pecahan batu kali dan ijuk aren untuk menjernihkan air yang dikombinasikan dengan perlakuan kimia serta biologis seperti kegiatan pemupukan tanah dasar untuk menumbuhkan plankton dan pakan alami lainnya sesuai anjuran Balubi (DKP Konawe Selatan, 2007). Instalasi air tawar bagi kegiatan pemasukan dan sistem pengeluaran air dibantu dengan pintu air, pipa pemasukan dan pengeluaran air dilengkapi cek valf dan bold valf, serta sarana pengendalian air ketika musim banjir. Prinsip dari pengolahan air ini adalah pemanfaatan air segar dan pembuangan air kotor termasuk sisa hasil metabolisme dan pembusukan yang terjadi dalam kolam pembesaran ikan lele dan ikan mas. Bagi sebuah UMKM akuakultur,  pengolahan air wajib melakukan penerapan prinsip-prinsip  air yang memenuhi standar sebagai media yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan peliharaan secara maksimal. Karena toleransi terhadap perubahan lingkungan antara ikan lele dan ikan mas berbeda maka desain kolam terhadap kebutuhan air juga beda. Ikan lele sangat toleran terhadap perubahan kualitas air seperti kondisi tergenang, sementara ikan mas lebih tepat pada kondisi air mengalir. Prinsip-prinsip pengolahan air yang akan diintroduksi dalam kegiatan IPTEKDA LIPI  ini adalah pembuatan instalasi pengolahan air meliputi:

-          Menyediakan peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pengolahan air meliputi : Mesin pompa air (alkom) 6 PK,  pipa paralon 6 inchi, bolvalf 6 inchi,  pecahan batu kali, ijuk, waring kasar, dan waring halus.

-          Memastikan bahwa saluran air sudah baik, terhindar dari berbagai sampah makro, dan membebaskan air dari organisme hama.

-          Air tawar dialirkan melalui tandon untuk pengendapan partikel lumpur.

-          Pemasangan pecahan batu kali kolom air saluran untuk mengikat partikel lumpur halus.

-          Pemasang ijuk pada kolom air masuk ke pipa paralon.

-          Pemasangan pipa 6 inchi pada saluran pemasukan dan pengeluaran air media.

-          Pemasangan bolvalf 6 inchi untuk mengendalikan debit air yang masuk dan keluar kolam pembesaran.

-          Pemasangan saringan halus pada pipa pemasukan air untuk menghindari organisme mikro yang bersifat hama pengganggu organisme peliharaan.

-          Untuk menghindari terjadinya pengenangan air buruk dilakukan pemompaan air dengan alkom.

-          Jika air masuk lewat pipa paralon melebihi debit air yang dikehendaki, maka dibuatkan saluran pembuangan air.

   Teknologi yang akan diterapkan ini adalah pengehematan sumberdaya untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi  pengelolaan pembesaran ikan air tawar usaha-usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Prosedur yang penting dilakukan adalah sebgai berikut :

1)      Memperbaiki saluran pemasukan air dari pegunungan.

2)      Air tawar alirkan ke kolam tandon, untuk mengendapkan partikel lumpur dan pasir yang dapat meningkatkan kekeruhan kolam ikan.

3)      Pemasanga pecahan batu kali pada kolom saluran air.

4)      Pemasangan ijuk aren pada kolom saluran air untuk menyaring kotoran yang masuk.

5)      Pemasangan pipa dan bolvalf untuk mengatur debit air.

6)      Pemasangan  saring halus pada pipa pemasukan air untuk menghindari masuknya organisme hama dan pathogen kedalam kolam pemeliharaan.

7)      Pengolahan tanah dasar kolam untuk menghindari kekeruhan dan tumbuhnya organisme pathogen.

8)      Kegiatan pemupukan tanah dasar dan pupuk susulan untuk menumbuhkan plankton dan kelekap air tawar, yang memiliki peran penting untuk menambah keteduhan air dan menghindari fluktuasi temperatur yang berlebihan.

9)      Kedalam air kolam diupayakan optimal agar ikan nyaman untuk beraktifitas dan kecerahan perairan baik.

10)  Untuk menghindari penumpukan bahan organik dan partikel lumpur maka dapat dilakukan pembuangan melalui keni paralon.

11)  Agar air berada pada kondisi yang nyaman dan optimum maka kedalaman air perlu diatur disesuaikan dengan umur ikan. Struktur pengolahan air dalam kegiatan penerapan teknologi IPTEKDA LIPI ini disajikan  seperti berikut (Gambar 3) :

 

 

 

 

 

 

 

 

SALURAN AIR TAWAR

TANDON AIR

PECAHAN BATU KALI

AIR MENGALIR KE

  IJUK AREN

AIR MENGALIR KE

PIPA PARALON

WARING HALUS

PENGOLAHAN TANAH DASAR KOLAM

PEMUPUKAN TANAH DASAR DAN PUPUK SUSULAN

OPTIMALISASI KEDALAMAN AIR  KOLAM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3. Sistem pengolahan air tawar untuk menghasilkan air yang layak bagi   pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan air tawar  (Balubi, 2007)

 

Teknologi terbarukan ini diharapkan mampu mendongkrak produksi masal ikan lele dan ikan mas dengan ketentuan pemberian pakan buatan tersebut di atas secara optimal dan pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara tepat.

 

      b. Pencetakan pakan murah berbasis bahan lokal

Mahalnya harga pakan produksi  pabrik di pasaran menyebabkan ketidak seimbangan antara input dan output bagi pembudidaya ikan air tawar di Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. Selain harga pakan yang mahal juga tidak tersedia secara kontinyu dan jarak lokasi budidaya ke toko pakan cukup jauh sehingga perlu ada tambahan biaya transportasi. Kondisi ini menyebabkan menurunnya gairah pembudidaya ikan air tawar, serta kegiatan akuakultur menjadi kurang terurus. Kondisi ini tidak dapat terus dibiarkan mengingat ketahanan pangan masyarakat perlu segera diperbaiki dan membuka lapangan pekerjaan, serta menurunkan jumlah penduduk miskin.

Di daerah Konawe Selatan cukup banyak sumber bahan-bahan pakan ikan air tawar yang dapat diproduksi menjadi pellet dan sampai saat ini nilai pemanfaatannya masih rendah. Komponen nutrisi untuk penggunaan pakan buatan UMKM mitra IPTEKDA berupa bahan utama meliputi sumber-sumber protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Pakan buatan yang akan digunakan dalam kegiatan IPTEKDA ini telah dirancang oleh Balubi (DKP Kabupaten Konawe Selatan, 2007). Pakan murah sebagai hasil temuan atas inovasi teknologi dari berbagai kalangan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan jumlah produksi ikan sehingga meningkatkan pendapatan  UMKM mitra akan diterapkan pada skim kegiatan IPTEKDA LIPI 2016. Komponen  penyusun pakan murah  tersebut berasal dari  bahan-bahan yang mudah diperoleh di wilayah Kabupaten Konawe Selatan dan sekitarnya.  Bahan-bahan  tersebut adalah: Sari pati karbohidrat dari katul (dedak halus), pati tapioka, tepung bungkil, tepung ikan, tepung daging keong emas, minyak ikan, vitamin mix, dan mineral mix. Pembuatan pakan ini akan dikelompokkan beberapa kriteria meliputi  kandungan protein dan ukuran partikel pakan berdasar umur dan fase petumbuhan bobot tubuh. Semakin muda umur ikan maka kadungan protein ideal makin tinggi sampai pada kandungan optimum, dan semakin besar ukuran ikan baik berat maupun panjang tubuh maka diikuti besarnya bukaan mulut dan ukuran partikel pakan buatan. Selain dari komposisi pakan yang lengkap tersebut perlu pula diperhatikan tentang food habit dan feeding habit ikan mas dan ikan lele peliharaan. Karakteristik pakan buatan memiliki palatabilitas yang baik, water stability yang tinggi, rasa, dan bau yang khas.

Teknologi yang akan diterapkan pada kegiatan IPTEKDA LIPI Tahun 2016 terdiri dari 3 kegiatan utama meliputi : (1) Pencetakan pakan murah berbasis bahan lokal, (2) Pengolahan air media akuakultur bermutu tinggi, dan (3) Produk olahan ikan lele untuk meningkatkan nilai jual, meningkatkan ketahanan pangan nasional, dan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat.  Adapun peralatan dan bahan yang akan dipergunakan pada kegiatan satu (1) tersebut disajikan pada Tabel 1 berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Nama alat, bahan, cara pakai dan kegunannya dalam pembuatan pakan ikan air tawar

 

No

Nama Alat dan Bahan

Prosedur

Kegunaan

1

Mesin pencampur pakan

Masukan semua bahan pakan yang telah diformulasi sesuai kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.

Dapat mencampur bahan-bahan pakan secara merata

2

Mesin pencetak pakan

Giling bahan pakan yang sudah disiapkan sampai halus sesuai rekomendasi pakan ikan

Menggiling bahan pakan murah yang sesuai ukuran yang dikehendaki 

3

Sari pati dedak halus

Bersihkan dari segala kulit gabah, kotoran, dan ayak hingga terpisah antara sari pati dan kotoran. Jika masih banyak terdapat biji atau potongan beras maka dilakukan penggilingan hingga halus

Sumber karbohidrat pakan murah

4

Sari pati tapioka

Ubi kayu kering dijadikan tepung dan diayak halus

Sumber karbohidrat mudah dicerna, serat kasar, dan glukosa

5

Tepung ikan

Campur dengan bahan lainnya hingga merata

Sumber protein mudah dicerna

6

Tepung bungkil

Bungkil kelapa hasil pembuatan minyak dikeringkan selanjutnya dijadikan tepung

Sumber lemak, protein, karbohidrat

7

Tepung keong emas

Kumpulkan keong emas dari sawah, bersihkan, rebus pakai garam, pisahkan dari cangkang, jemur, giling jadi tepung

Sumber protein dan lemak ikan

8

Minyak ikan

Campur dengan bahan lainnya  secara proporsional

Sumber lemak

9

Vitamin mix

Campur dengan bahan lainnya  secara proporsional

Daya tahan tubuh

10

Mineral mix

Campur dengan bahan lainnya  secara proporsional

Cita rasa, stimulant

11

Panci kukusan

Masuka air tawar bersih, pasang saringan kukus

Mengkukus pakan

12

Kompor

Nyalakan api

Mengkukus pakan

13

Kukusan

Masukan bahan-bahan pakan yang telah dicampur merata kedalam kukusan dan panaskan hingga mendidih.

Agar pakan menjadi tanak dan kelak mudah dicerna oleh ikan peliharaan.

14

Cetakan

Bahan pakan yang sudah tanak, didinginkan, masukan pada cetakan, giling hingga pellet terbentuk.

Membentuk pakan ikan crumble, pellet sesuai ukuran bukaan mulut ikan peliharaan.

 

Sebelum mencetak pakan lokal murah sesuai dengan kandungan dan performa pakan  yang dibutuhkan oleh ikan peliharaan maka terlebih dahulu menghitung kandungan pakan yang akan dihasilkan. Pakan yang akan dibuat secara bertahap untuk menjaga kualitas pakan tetap sangat baik. Tahapan-tahapan pembuatan pakan adalah sebagai berikut  :

-          Pengadaan semua peralatan dan bahan  yang diperlukan seperti Tabel 1.

-          Dedak halus dipisah dari kulit gabah dan kotoran, patahan beras digiling hingga halus

-          Ubikayu diparut halus, dijemur secara merata sampai kering, digiling hingga membentuk tepung halus

-          Ikan hasil tangkapan yang tidak ekonomis dibersihkan dari kotoran, direndam air garam secukupnya khas rasa serta pembau, dikukus 80o C, didinginkan, diblender, dijemur secara merata sampai kering, dan digiling menjadi tepung ikan.

-          Keong emas sebagai hama pengganggu di sawah dikumpulkan dan dipisahkan dari cangkang, diblender, dijemur secara merata sampai kering, dan digiling hingga membentuk tepung halus.

-          Bungkil kelapa limbah pembuatan minyak dikumpulkan, dikeringkan secara merata, dan digiling hingga membentuk tepung halus.

-          Minyak ikan didapatkan dari hasil sublin ikan nelayan tradisional di pesisir Konawe Selatan.

-          Sumber vitamin miks dan mineral miks didapatkan dari apotik terdekat.

-          Semua bahan pakan tersebut diformulasikan sesuai komposisi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral kebutuhan ikan air tawar.

-          Pakan dicampur menggunakan mesin pakan agar tercampur secara merata, ditambahkan air panas hingga membentuk adonan.

-          Adonan pakan didinginkan, dimasukan dalam mesin pencetak pelet, diproses hingga membentuk krumble untuk pakan benih, dan pelet untuk pakan ikan gelondongan dan dewasa.

-          Crumble dan pellet hasil cetakan dikeringkan pada ruang yang steril bahan kontaminasi, agar kandungan nutrisi tetap stabil.

-          Kandungan nutrisi pakan diformulasi berdasarkan jenis ikan, umur dan ukuran ikan.

 

Secara detail proses pembuatan pakan murah pada intensifikasi budidaya ikan lele dan ikan mas  dapat dilihat pada Gambar 3.

 

PABRIK PAKAN IKAN

INSTALASI PENGOLAHAN BAHAN, PROCESSING, MESIN PENCAMPUR,  DAN PENCETAKAN,

GUDANG PENGERINGAN

HASIL PARUT UBI KAYU

GUDANG PENYIMPANANGAN

KATUL LEMBAB

HASIL BELENDER IKAN PAKAN

DISTRIBUSI PADA ANGGOTA POKDAKAN MASAGENA  UMKM MITRA IPTEKDA

 

 

 

 

 

 

 

 

 


MESIN-MESIN

PAKAN

HASIL BELENDER KEONG EMAS

                                                                                     

BUNGKIL KELAPA

 


PETAK PEMBESARAN

PETAK PEMBESARAN

KRUMBLE (PAKAN BENIH)

                                                                                                                                                                          

PETAK PEMBESARAN

PETAK PEMBESARAN

                                                                                                                  

PELLET (PAKAN DEWASA)

                                                                                  

                                                                                                                                                        

 

 

MINYAK IKAN

TEPUNG KEONG EMAS

SARI DEDAK HALUS

TEPUNG TAPIOKA

TEPUNG BUNGKIL KELAPA

VITAMIN

MIKS

MINERAL

MIKS

TEPUNG IKAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 Gambar 3. Diagram alih teknologi pembuatan pakan murah pembesaran ikan air tawar untuk  UMKM Pokdakan Masagena Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan sebagai mitra Iptekda Tahun 2016

 

c. Pengolahan ikan

 

Pakan dan sumber energy lainnya perlu diamankan dalam rangka efektifitas dan efisiensi sumberdaya. Bagi ikan lele dan ikan mas hasil budidaya yang sudah memasuki ukuran konsumsi dalam jumlah besar diperlukan sarana pengolahan untuk menekan penggunaan pakan dan menurunnya kelangsungan hidup akibat kematian ikan. Pengolahan ikan lele produksi UMKM Pokdakan Masagena mitra Iptekda 2016 ini penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual ikan. Mengingat aspek manajemen bisnis ikan lele ini memiliki rantai yang panjang maka untuk keamanan produksi pangan ini perlu diolah, selain membentuk rasa yang gurih juga menekan biaya produksi dan biaya pemasaran. Teknologi yang akan diterapkan pada kegiatan Iptekda LIPI ini adalah ikan lele panggang semi kering. Peralatan Adapun peralatan dan bahan yang akan dipergunakan pada kegiatan tersebut disajikan pada Tabel 2 berikut :

 

Tabel 2. Nama alat, bahan, cara pakai dan kegunannya dalam pengolahan ikan lele

 

 

No

Nama Alat dan Bahan

Prosedur

Kegunaan

1

Gabus stirofoam

Hasil panen ikan lele tampung pada gabus (cool box)

Menampung hasil panen

2

Talang plastik

Sortitran ikan lele atas tiga kelompok ukuran (L, M, S)

Mengelompokan ikan berdasarkan ukuran panjang

3

Pisau

Iris sempurna abdomen ikan dan pisahkan usus dari tubuh ikan. Keluarkan insang

Memisahkan usus dan insang ikan lele dari tubuhnya

4

Loyang

Masukan iken bebas usus dan insang ke loyang

Mencuci bersih dari sisa kotoran dan darah ikan

5

Blender

Masukan bahan-bahan bumbu rasa ke blender

Menghaluskan dan mencampur secara merata bumbu rasa gurih

6

Panci dapur

Masukan bumbu dapur hasil rekomendasi ke panci, masukan air galon secukupnya, aduk merata, masukan ikan lele bersih, dan panaskan pada suhu tertentu

Memasak ikan lele, memudahkan penyerapan bumbu rasa kedalam daging ikan, dan dan memudahakan penyerapan panas kedalam daging ikan lele

7

Talang stenlis

Masukan ikan ikan lele yang sudah dibersihkan, direndam dalam larutan, dikukus, letakan secara rapi pada talang stenlis

Wadah panggang ikan lele

8

Oven

Masukan ikan yang telah direndam material bumbu dapur ke oven

Memanggang ikan lele hingga semi kering

9

Kemasan

Masukan ikan siap saji kedalam kemasan berdasarkan ukuran (L,M,S)

Menjaga keamanan bahan pangan dan memudahkan sistem pemasaran

10

Bumbu dapur

Haluskan semua bahan bumbu dapur yang direkomendasikan ahli makanan

Menjadikan ikan rasa gurih dan bau khas

11

Kompor

Pasang oven pada kompor yang dinyalakan api dan masukan ikan lele siap panggang pada deratan posisi

Sumber api pemanggang ikan lele

12

Ruang penampungan produksi

Kumpulkan ikan panggang hasil produksi yang telah dikemas   berdasarkan kelompok ukuran pada ruang bersih, sejuk, higienis, dan nyaman.

Ikan olahan siap dipasarkan ke mini market, swalayan, pasar lokal dan nasional

 

 

4.2.2.Alasan pemilihan  teknologi proses produksi yang akan diimplementasikan

 

         4.2.2.1  Pencetakan pakan murah berbasis bahan lokal

        Dari sekian banyak kendala pengembangan budidaya ikan pakan merupakan komponen terbesar dari struktur biaya operasional produksi dengan porsi 50 % - 60 %. Tingginya biaya pakan ikan ini mengakibatkan kurangnya minat petani ikan untuk melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi budidaya ikan. Provinsi Sulawesi Tenggara khususnya Kabupaten Konawe Selatan sangat kaya dengan ketersediaan bahan baku pakan ikan, namun masih rendah sentuhan teknologi berkaitan dengan penyediaan nutrisi bagi pertumbuhan ikan.

      Budidaya ikan air tawar di daerah ini masih mengandalkan pakan pabrik komersial dengan harga Rp.10.000-Rp.15.000 per kg dengan konvenrsi pakan 3-4. Artinya untuk menghasilkan produksi ikan basah 1 kg diperlukanan pakan sebanyak 3-4 kg atau biaya pakan sebesar Rp.40.000-Rp.60.000 (konversi 4) atau Rp.48.000-Rp.72.000.  Mahalnya harga pakan ini mengakibatkan biaya produksi sangat tinggi atau pakan tidak efisien. Khusus untuk kegiatan  pembesaran  ikan lele di Sulawesi Tenggara oleh petani menggunakan  usus ayam sebagai pakan, namun masih menimbulkan masalah baru seperti buruknya kualitas air (bau), rendahnya nilai estetika akuakultur, tergantung pada hasil pemotongan ayam, dan tidak kontinyu.

         Pakan yang akan diterapkan pada kegiatan IPTEKDA ini adalah pakan murah berupa pellet komposisi nutrisinya diatur untuk memacu pertumbuhan ikan lele dan ikan mas, menyesuaikan performansi, dan mempengaruhi rasa alami daging ikan. Seluruh bahan-bahan baku pembuatan pakan ikan (Tabel 1)   harganya jauh lebih murah, tersedia disekitar lokasi UMKM Pokdakan Masagena mitra IPTEKDA, dan anggota tim Pokdakan sudah mengetahui bahan dan peralatan tersebut melaui binaan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UHO. Pakan buatan sudah diujicobakan dan diterapkan oleh Balubi (2007), dan memberikan hasil yang menggembirakan.

 

4.2.2.2.          Pengolahan air media akuakultur bermutu tinggi

Salah satu penentu utama keberhasilan budidaya ikan adalah kualitas air harus memenuhi standar kehidupan ikan peliharaan. Selain memenuhi standar kehidupan ikan yang terpenting adalah kemanan bahan pangan (food sevty) yang harus memenuhi sertifikasi sesuai anjuran FAO. Hal ini betapa pentingnya kemanan bahan pangan terutama untuk kebutuhan protein, kesehatan konsumendan kenyamanan bahan pangan. Dengan demikian pengelolaan kualitas  air menjadi penting untuk kelangsungan hidup ikan peliharaan.

Air di alam terkenal dengan kualitas yang rendah akibat pencemaran lingkungan dampak dari banyaknya jumlah penduduk dan aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Tingginya tekanan terhadap lingkungan hidup yang berakibat pada  munurunnya kualitas air maka kebutuhan untuk intensifikasi dan ekstensifikasi budidaya ikan menjadi tidak terpenuhi. Petani ikan pasrah dengan keadaan dan tetap memaksakan kegiatan budidaya ikan namun hasilnya sangat rendah, tidak memenuhi kebutuhan hidup harian.

Kondisi ini harus segera diatasi dengan menerapkan teknologi pengolahan air, sesuai dengan standar baku budidaya ikan. Teknologi pengolahan air diharapkan biayanya relatif murah yang mampu dijangkau oleh petani ikan. Instalasi pengolahan air yang akan diterapkan dalam kegiatan Iptekda LIPI ini mampu menghasilkan produksi ikan maksimal setelah mengetahui kondisi fisiologi pertumbuhan ikan lele dan ikan mas. Kualitas air yang akan diciptakan akan memisahkan air dengan berbagai bahan kontaminan, menumbuhkan palnkton dan menciptakan faktor fisika dan kimia perairan secara alamiah bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan secara optimal.

 

4.2.2.3.         Pengolahan ikan

Produksi ikan jika sudah memasuki ukuran kebutuhan pasar maka sebaiknya segera dipanen untuk mengurangi/menghentikan kebutuhan pakan dan energi lainnya. Selama ini hasil  produksi ikan lele di kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan khususnya dan Sulawesi Tenggara umumnya  masih dipasarkan dalam kedaan hidup. Jika menunggu konsumen atau pembeli yang datang ke lokasi pembesaran maka ikan harus terus mendapatkan pasokan pakan yang mengakibatkan meningkatnya biaya produksi.  Produksi ikan hasil tani jika dipasarkan di Pulau Jawa biaya transportasi yang sangat mahal, produksi sedikit tidak memenuhi kuota kapal, mengakibatkan biaya pemasaran tidak seimbang dengan nilai jual, atau menyebabkan usaha kurang ekonomis.

Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan teknologi pengolahan ikan lele yang sangat bermanfaat bagi peningkatan minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan lele dan meningkatkan nilai jual. Jika proses pengolahan ini berjalan lancar maka produksi ikan hasil tani berapapun jumlahnya akan dapat ditampung dan dijual mahal ketika musim terang bulan tiba dimana harga ikan dirasakan mahal. Yang paling penting adalah jika produksi olahan memenuhi kuota kapal atau melalui kontainer maka dapat dipromosikan kepasar nasional dan eksport.

 

4.4. Peralatan yang digunakan dalam proses produksi

a)   Mesin penepung

Mesin penepung yang digunakan untuk menggiling tepung tapioka, jagung, keong emas, ikan, bungkil, agar menghasilkan tepung yang sangat halus hingga mudah dicerna oleh ikan yang dibudidayakan. Mesin penepung ini dapat bekerja pada 2 sisi untuk membuat bahan berukuran sederhana hingga mudah dikeringkan. Setelah kering barulah digiling menjadi tepung sebagai bahan pakan sesuai komposisi yang dikehendaki.  Mesin berkekuatan 5,5 PK merek Honda yang dilengkapi fuling dan pambel, agar peralatan tetap dalam kondisi stabil dan mudah dioperasikan

 

 

b)  Mesin pencetak pellet

Bahan pakan yang telah dicampur merata, diaduk merata selanjutnya dilakukan pencetakan pellet. Ukuran mesin cetak disesuaikan ukuran bukaan mulut benih, gelondongan, dan ikan dewasa atau dalam bentuk krumble dan pellet utuh. Setelah selesai kegiatan pencetakan pakan dikeringkan pada ruang kering dan dingin.

c)  Panci kukusan

Panci kukusan yang akan digunakan pada kegiatan Iptekda LIPI ini nomor 60 sebanya 3 buah berkapasitas 10 kg per panci. Panci kukusan ini dilengkapi saringan yang dipasang secara sempurna, untuk menhindari air yang bersentuhan langsung.

c) Kompor api

Kompor api yang akan digunakan yang memiliki kapasitas seimbang dengan panci nomor 60 yang mampu memasak kapasitas 10 kg per panci atau 3 mata kompor per 3 panci kukusan.

d) Ruang pengeringan pakan

Pakan buatan yang masih lembab perlu col dry ruang untuk mengeringkan pakan yang dicetak sesuai kebutuhan ikan peliharaan. Ruang pengeringan dapat berupa bangsal sehat dilengkapi wadah pengeringan. Untuk mengatasi masalah cuaca yang tidak menentu maka diperlukan ruang tembus cahaya dengan menggunakan atap fiber bening. 

Wadah pengeringan pellet harus steril untuk menghindari kontaminasi terutama saat pakan dalam keadaan lembab juga sudah kering dari proses oksidasi dan jamur. Jika kebersihan lantai diragukan maka diperlukan meja dan talang/baki pengeringan dalam jumlah yang cukup.

e)   Karung kemasan

Karung kemasan adalah karung baru atau bukan karung bekas untuk menghindari bahan kontaminasi yang menyebabkan pakan buatan ini menurun kualitasnya. Kemasan pakan dapat berupa  karung nilon yang dilapisi kantong plastik untuk menghindari kelembaban dan rembesan air. Ukuran karung dapat digunakan 25 kg dan 50 kg sesuai keperluan petani pembudidaya ikan.

f)    Mesin jahit karung

Karung yang sudah diisi pakan buatan langsung dijahit dengan mesin agar pakan tidak mudah teroksidasi. Reaksi oksidasi ini dapat menurunkan kualitas pakan terutama kandungan protein dan lemak. Reaksi ini disebabkan oleh kelembaban ruangan, pemanasan, dan pendinginan, serta mikroba yang kontaminan.

g)   Mesin pompa air tawar

Mesin pompa air berupa alkom 6 PK untuk memasukan dan mengeluarkan air pada kondisi tidak normal. Kondisi dimaksud pada saat musim kemarau dimana air tawar tidak dapat melalui saluran yang disiapkan. Selain itu mesin ini dapat digunakan membuang air yang tergenang pada saat mebuang air kotor dalam kolam pembesaran.

h)   Pipa paralon dan bolvalf

Pipa paralon yang akan digunakan berukuran 6 inchi untuk memudahkan keluar masuknya air dan memenuhi kebutuhan air kolam ikan. Pipa paralon yang baik adalah merek wavin yang sangat kuat terhadap pemanasan dan pendinginan oleh iklim. Bolvalf yang digunakan juga berukuran 2 inchi untuk mengatur debit air yang akan keluar dan masuk.

i)  Gabus stirofoam

Gabus col box akan digunakan untuk menampung hasil panen ikan lele dan ikan mas baik untuk diolah bagi ikan lele dan langsung dipasarkan untuk ikan mas. Gabus yang akan digunakan berukuran 100 cm x 50 cm x 50 cm cap Garuda.

 

j) Talang-talang

Talang-talang ini berfungsi untuk mensortir dan mengelompokan produksi ikan. Ikan prodiksi dikelompokan 3 bagian ukuran yaitu panjang (L), menengah (M), dan pendek (S). Selanjutnya. Ikan produksi  ditimbang dan setiap talang diisi ikan sebanyak 3-5 kg. Ukuran ini untuk memudahkan pengelompokan kegiatan olahan, pemasaran yang sesuai selera konsumen.

k)  Pisau

Pisau yang akan digunakan adalah stenlis agar tidak mudah mengalami korosi dan tajam. Pisau ini tidak mudah tumpul  setiap dilakukan asa maka akan segera tajam. Pisau yang tajam akan mempercepat proses handling membersihkan ikan dari usus dan insang. Pisau perlu disiapkan dalam jumlah yang cukup agar proses pengolahan ikan lele selesai tepat waktu. Kecepatan dan ketepatan penanganan akan menentukan kualitas hasil olahan.

 

 

l)     Loyang

Loyang yang dugunakan juga anti korosi untuk menghindari terjadinya kontaminan pada ikan olahan produksi. Loyang yang digunakan untuk mencuci ikan saat dilakukan pengolahan. Loyang juga dapat digunakan untuk menampung sementara ikan-ikan segar yang akan diolah.

 

m)    Blender

Blender dengan kapasitas 320 wat mampu mencampur dan menghaluskan bumpu dapur secara sempurna. Selain digunakan sebagai bumbu olahan juga untuk keperluan lainnya.

n)  Panci dapur

Panci dapur yang akan digunakan nomor 60 berkapasitas 20 kg digunakan untuk memanas ikan olahan. Pentingnya pemanasan ini agar bumbu mampu terserap dalam daging ikan. Kegiatan pengukusan juga mempermudah dalam proses pemanggangan ikan lele.

 

o)      Oven

Oven digunakan berkapasitas besar untuk memangang ikan dalam jumlah banyak. Oven kan dirancang dengan menggunakan bahan anti korosi dan kedap panas agar ikan terpanggang tidak merusak struktur gizi ikan.

 

p)     Kompor api

Kompor api disesuaikan dengan kapasitas oven yang digunakan baik kompor gas maupun kompor minyak tanah. Jika tidak sesuai maka akan digunakan kayu bakar ramah lingkungan seperti sabuk dan tempurung kelapa, arang kayu dari bonggol kayu padat, dan berbagai limbah hasil olahan kayu.

 

q)     Kemasan

Kemasan ikan olahan terbuat dari bahan yang telah direkomendasikan lembaga kredibel dan aman terhadap bahan pangan.  Kemasan hasil pabrikan yang terdapat di berbagai swalayan, toko, dan mini market di Kota Kendari. Kemasan yang berlabel IRT  (industri rumah tangga) penting untuk pengenalan hasil produk kepada masyarakat.

 

 

 

4.5.  Skala produksi dan alasannya

Skala produksi ikan lele dan ikan mas akan dikelompokan berdasarkan luas area kolam masing-masing anggota UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan ditargetkan sekitar  1,29 ton ikan mas, 4 ton ikan lele segar atau 1.33 ton ikan olahan (1 : 3) per siklus (150 hari). Hal ini dapat dicapai jika tersedia tambahan modal melalui IPTEKDA dan ada input teknologi yang sifatnya terapan dan mudah dioperasikan. Target produksi biomassa ikan mas 1,29  ton dan 4  ton ikan lele segar atau 1.33 ton ikan olahan   berasal dari hasil estimasi. Perhitungan dari 0,5 hektar pembesaran ikan mas dan 0,75 hektar kolam pembesaran ikan lele. Hitungan estimasi didasarkan pada padat penebaran masing-masing  ikan mas dan ikan lele,  dipeliahara selama 5 bulan kealngsungan 80 % dengan size 6 ekor per kg. Sedangkan ikan lele berdasarkan estimasi padat penebaran 50 ekor per m2, dipelihara selama 5 bulan kelangsungan hidup 80 %  dengan sais 6 ekor per  kg  menghasilkan 4 ton basa, jika dipanggang menghasilkan 1,33 ton.  Nilai produksi  ikan mas  adalah 1.290 kg x Rp. 35.000 =  Rp. 45.150.000 dan  produksi ikan lele segar 4 ton atau 4.000 kg X Rp. 30.000 = Rp. 120.000.000. Ikan lele olahan   sejumlah 1,33 ton atau 1.330 kg X Rp.30.000 = Rp. 39.990.000. Total nilai yang dihasilkan atas penjualan ikan mas segar dan   ikan lele mencapai Rp.400.500.000 jika program ini berjalan dengan lancar.

Berdasarkan pengalaman penerapan Iptekda LIPI tahap I, ikan lele yang ditebar dengan kepadatan 2.000 ekor/ petak setelah berumur 4 bulan mencapai kelangsungan hidup 91 % dengan rata-rata size 8 ekor per kg. Dengan penebaran demikian mampu menghasilkan produksi 227,50 kg dengan harga jual Rp. 30.000 per kg menghasilkan sebesar Rp. 6.825.000.

Ikan mas yang ditebar sebanyak 1930 ekor per petak  setelah berumur 4 bulan mampu menghasilkan kelangsungan hidup 86 % dengan rata-rata size 10 ekor per kg. Jumlah produksi mencapai 165,98 kg. Nilai penjualan berkisar antara 45.000 hingga Rp. 70.000 per kg.

 

4.6. Penyediaan bahan baku

Bahan baku untuk penyediaan pakan bahan lokal,  pengolahan peningkatan mutu air dan bahan baku pengolahan  ikan lele sebahagian besar dapat diperoleh disekitar lokasi kegiatan penerapan Iptekda LIPI seperti sari pati dedak halus, tepung tapioka, tepung keong emas. Sedangkan bahan baku lainnya berupa tepung ikan, minyak ikan, vitamin miks dan mineral didapatkan di Kota  Kendari yang jaraknya relatif dekat dengan lokasi lokasi kolam Pokdakan Masegena UMKM mitra Iptekda. Sehingga bahan-bahan tersebut dapat digunakan kapan saja bila diperlukan. Peralatan mesin penggiling pakan, pencetak pakan murah, kukusan, sarana pengeringan pakan komponennya tersedia dan mudah dirakit di Kota Kendari.

 

4.7. Jumlah UMKM yang terlibat

Dalam kegiatan IPTEKDA LIPI ini UMKM yang akan dilibatkan sebanyak 1 usaha mikro kecil menengah yaitu UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. Hal ini disebabkan   karena keterbatasan modal dan  baru kali pertama upaya pengajuan bantuan modal melalui  skim Iptekda LIPI dilakukan. Karena UMKM di atas adalah Binaan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo, maka  diharapkan akan menjadi UMKM yang kuat dan mandiri. Mengingat potensi pengembangan ikan air tawar di daerah Konawe Selatan sangat besar meliputi kecamatan Mowila, Angata, Landono, Ranomeeto, Tinanggea, Lainea, Moramo, dan Kecamatan Konda diharapkan menjadi percontohan (demonstrasi pond) bagi kegiatan budidaya kolam di Provinsi Sulawesi Tenggara.

 

4.8. Pemanfatan dana usaha berkelanjutan dalam bentuk kelayakan ekonomi usaha

 

         Kegiatan ini direncanakan akan menerapkan teknologi pada UMKM budidaya ikan air tawar yaitu UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta dengan memanfaatkan dana sebesar Rp. 140.000.000,-. Pengalokasiannya digunakan untuk biaya alih teknologi sebesar Rp.100.800.000 atau 72  % dan sisanya sebesar Rp. 39.200.000 atau 28 % untuk biaya operasional pelaksanaan kegiatan. Biaya alokasi teknologi dikhususkan pada 3 pembiayaan penting meliputi :

          Pertama, dalam  rangka pemenuhan kebutuhan pakan murah bagi pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan lele dan ikan mas. Keberadaan  pakan murah ini akan  meningkatkan efisiensi dan efektifitas usaha Pokdakan Masagena mitra Iptekda, mengurangi biaya produksi dan meningkatkan jumlah produksi ikan. Hadirnya pakan murah bagi petani ikan akan menghemat biaya produksi khususnya makan ikan lebih dari 50 %.

Kedua, mengoptimalkan kegiatan pengolahan air media sehingga kualitas air menjadi faktor penunjang utama keberhasilan budidaya ikan lele dan ikan mas. Pengolahan air media akuakultur memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan ikan atas faktor fisika, biologi, dan kimia perairan.  Kebutuhan ikan akan faktor tersebut seperti fisika perairan (suhu, kecerahan, tekanan, cuaca dan iklim), kimia perairan (oksigen terlarur, pH, kesadahan, alkalinitas, NH3, NO3, logam berat, asam pirit) dan biologi perairan (plankton, kelekap, penyaing, dan organisme pathogen).

Ketiga, pengolahan ikan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai jual, efisiensi dan efektifitas suatu usaha UMKM, mengantisipasi pasar ketika blooming produksi, dan mengehmat pakan ketika ikan peliharaan sudah memasuki ukuran konsumsi atau standardisasi pasar. Pengolahan ikan lele ini untuk meningkatkan rasa gurih sehingga mampu menarik minat masyarakat untuk gemar makan ikan lele khususnya di Sulawesi Tenggara. Produksi olahan ikan lele akan semakin memperbanyak keanekaragaman bahan pangan, sekaligus menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai lumbung ikan nasional.  

Sejumlah dana pembiayaan tersebut akan digunakan secara  bertahap dalam tahun 2016. Penggunaan dana awal atau dana termin I sebesar 40 % akan digunakan untuk  kegiatan alih teknologi  berupa pembiayaan peralatan dan bahan pembuatan pakan murah. Kegiatan selanjutnya  penyempurnaan water treatment atau pengolahan air tawar media budidaya ikan lele dan ikan mas. Selebihnya dana termin I tersebut digunakan untuk operasional pelaksanaan kegiatan. Pemanfaatan dana termin II (30 %) untuk pembiayaan penyempurnaan peralatan dan bahan pembuatan pakan murah, penataan kualitas air, dan peralatan bahan pengolahan ikan lele. Untuk dana termin III (30 %) kegiatan lanjutan pembuatan pakan murah, pengolahan air tawar, pengolahan ikan lele dan kegiatan pendampingan di lokasi kegiatan UMKM mitra Iptekda.

Seluruh dana pembiayaan penerapan dan pemanfaatan IPTEKDA XIX LIPI Tahun 2016 di atas merupakan tambahan investasi dalam rangka penguatan investasi usaha budidaya ikan lele dan ikan mas UMKM mitra yang telah dibangun sebelumnya. Teknis pelaksanaan kegiatan investasi tersebut dan pengembaliannya sepenuhnya akan dikelola oleh pengusul. Pengembalian dana investasi tersebut dalam bentuk manajemen fee yang prosesnya dapat dilakukan setelah UMKM mitra telah menerima semua peralatan yang direncanakan dan telah berhasil melakukan penjualan produksi dari pemanfaatan alat dimaksud. Sistem pengembalian direncanakan selama kurun waktu 2 tahun atau 24 bulan dengan angsuran bulanan. Besarnya angsuran bulanan meliputi angsuran pokok + 0,5 % penyusutan, bunga dana alih teknologi sebesar 1 %, dan jasa bantuan teknis atau manajemen sebesar 1 %. Seluruh penerimaan dana pengembalian tersebut Kelompok Intermediasi Alih Teknologi (KIAT)  akan memanfaatkannya untuk pengembangan UMKM budidaya ikan lele dan ikan mas atau secara bergulir ke UMKM binaan lain yang bergerak dibidang usaha budidaya ikan air tawar.

 

4.9. Daya saing (competitiveness) produk yang akan dihasilkan

Produk yang akan dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan Iptekda XIX  LIPI Tahun 2016 adalah berupa ikan lele dan ikan mas. Produksi biomassa ikan lele akan dilanjutkan dengan pengolahan, dikemas dan siap dipasarkan. Sedangkan ikan mas selain menjadi konsumsi juga akan langsung didrop di arena pemancingan.  Penggunaan teknologi terbaru dalam proses pembesaran ikan air tawar akan menghasilkan produksi yang berkualitas dengan jumlah maksimal. Ikan lele dan ikan mas yang berkualitas dicirikan oleh kemontokan atau bobot dan panjang tubuh proporsional. Sedangkan prouksi lanjutan ikan lele adalah olahan yang memiliki nilai gizi yang tinggi dimana kadar air telah berkurang. Kadar air ikan lele olahan dihitung berdasarkan persentase hasil  selisi berat basa dan berat kering dibandingkan bobot basa. Penerapan teknologi bagi  UMKM akan menghasilkan produksi ikan baik basa maupun olahan secara berkelanjuta sesuai skedule yang ditentukan pihak manajemen. Jika hasil produksi perikanan tersebut telah memenuhi selera konsumen maka pemasaran hasil akan sukses dan lancar. Produksi ikan lele dan ika mas di Sulawesi Tenggara belum mampu memenuhi permintaan pasar lokal yang terus meningkat, apalagi pasar nasional seperti permintaan pasar di pulau Jawa jumlahnya sangat besar. Produksi ikan selama ini tidak kontinyu sehingga daerah ini tidak dikenal sebagai penghasil ikan air tawar.

Harga penjualan ikan lele segar dari UMKM Mitra Pokdakan Masagena  ini hanya Rp. 15.000 per  kg  sedangkan di tingkat lapangan mencapai Rp. 30.000  per kg. Untuk ikan mas dijual seharga Rp. 35.000 per kg sedangkan di pasaran umumnya Rp. 40.000 per kg, dan di wisata pemancingan Rp. 50.000 per kg.

 

4.10. Potensi pasar dan strategi perluasan pemasaran

Produksi ikan lele dan ikan mas  masih memiliki potensi pasar yang sangat besar di provinsi Sulawesi Tenggara. Banyak pengusaha ikan dari Jakarta dan Surabaya datang di Sulawesi Tenggara memerlukan ikan lele dan ikan mas dalam jumlah besar, namun tidak terpenuhi. Produksi ikan di daerah ini sangat sedikit dan tidak kontinyu dibanding kebutuhan pasar akan ikan semakin meningkat. Kecilnya jumlah produksi ikan air tawar usaha budidaya ini penyebab utama adalah mahalnya harga pakan. Sementara pasar ikan lele dan ikan mas ini selain menjadi konsumsi pada beberapa rumah makan ternama, kebutuhan rumah tangga masyarakat, juga menjadi artifisial yang cukup unik dan menarik dikawasan penduduk elit.  

Karena produksi ikan lele dan ikan mas termasuk produksi olahannya meupakan kebutuhan langsung oleh penduduk dan semakin diminati banyak kalangan maka jika tidak dibarengi produksi yang meningkat akan mengalami kekurangan seperti yang dialami saat ini.  Berdasarkan potensi pasar ikan air tawar ini baik lokal maupun nasional maka strategi pemasaran yang cukup efektif dilakukan adalah  :

a.  Membangun kerja sama yang baik antara Pengusaha Rumah Makan Ikan Lele, Swalayan/ Mini Market untuk produk olahan, Wisata Pemancingan untuk ikan Mas dengan UMKM Pokdakan Masagena  mitra Iptekda LIPI.  Strateginya adalah membangun kesepahaman untuk memudahkan distribusi produksi ikan kepada unit-unit pemasaran baik skala besar maupun skala kecil.

b. Membangun kerja sama dengan Instansi Teknis

Strateginya adalah menjadikan Instansi Teknis (DKP Kabupaten Konawe Selatan dan DKP Provinsi Sulawesi Tenggara) sebagai pusat informasi dan promosi produksi ikan lele dan ikan mas UMKM Pokdakan Masagena  mitra Iptekda LIPI. Sistem komunikasi perikanan selama ini terutama produk unggulan sangat gencar dilakukan oleh Dinas Perikanan.

c. Membangun stand pemasaran

Stand pemasaran dimaksudkan  untuk menarik perhatian dan minat konsumen, mendekatkan pasar dengan pembeli, sebagai wisata mini, dan rekreasi gratis pengunjung. Pemasaran ini akan dilengkapi dengan pengolahan air, kolam pajangan berupa bak fiber, kolam terpal, instalasi udara, dan akuarium. Sistem transportasi ikan hidup disiapkan kantong plastik, oksigen, dan kendaraan operasional

d.                         Menjaring kerjasama dengan pengusaha nasional

   Selama ini telah banyak pengusaha masuk di Sulawesi Tenggara baik langsung ke Instansi Teknis maupun langsung ke sentra produksi, namun belum mengakui karena selain produksi rendah juga tidak kontinyu. Kondisi tersebut membutuhkan kost yang tinggi sementara nilai jual rendah. Karena UMKM Mitra Iptekda LIPI 2015 adalah budidaya ikan sistem intensif dan memiliki manajemen fisik dan operasional secara profesional maka kepercayaan bayer akan tinggi. Kegiatan IPTEKDA LIPI ini hanya percontohan dan modal awal, menguntungkan dan sangat fisible maka akan diikuti dengan perluasan pada tahun berikutnya.

 

4.11. Rencana capaian peningkatan produktivitas

Jika teknologi introduksi telah diterapkan oleh UMKM Pokdakan Masagena Mitra Iptekda maka produksi ikan lele segar dan olahannya, biomassa ikan mas  dapat dimaksimalkan. Peningkatan produkstivitas ini akan dicapai dengan 3 teknologi secara paralel dan fisible adalah penerapan pakan murah dan mudah didapat, pengolahan air media sesuai kondisi fisiologi dan biologi pertumbuhan ikan peliharaan, dan pengolahan ikan lele bagi peningkatan nilai jual. Pertama, teknologi pembuatan pellet dengan bahan-bahan lokal yang mudah didapatkan, dan murah harganya akan memudahkan peningkatan produksi ikan mas dan ikan lele. Petani tidak akan lagi dibebankan oleh harga pakan yang terlalu tinggi atau tidak sebanding dengan nilai jual hasil produksi. Kedua, pengolahan air media pembesaran ikan yang sempurna akan terpenuhi kebutuhan kimia, fisika, dan biologi perairan. Kebutuhan kimia perairan untuk pertumbuhan yang baik meliputi kosentrasi kandungan oksigen lebih dari 5 ppm, pH  berkisar 7-8, dankandungan amoniak rendah lebih kecil dari 0,02 ppm. Kebutuhan biologi perairan meliputi tersedia phitoplankton sebagai penaung intesitas matahari, tidak terdapat hama dan penyakit, serta tidak terjadinya persaingan diantara ikan peliharaan. Kebutuhan fisika perairan meliputi suhu optimum 28-31oC, kecerahan optimum, tidak keruh, diperlukan air bertekanan untuk ikan mas dan air teduh untuk ikan lele. Ketiga,  pengolahan ikan lele dimaksudkan untuk meningkatkan nilai jual dan minat masyarakat. Pengolahan ini penting selain penganekaragaman produksi perikanan dan perbaikan nilai jual juga untuk menghemat pakan pada saat ikan lele sudah masuk ukuran konsumsi dalam jumlah banyak.

Target akhir rencana pencapaian produksi setelah penerapan teknologi tersebut tiga tahun ke depan pasca bantuan IPTEKDA LIPI  (pada tahun 2019) adalah sebesar 3 ton  ikan mas dan 9 ton   ikan lele segar pada UMKM untuk 1 siklus produksi.  Jika UMKM targetnya demikian maka harapan  produksi ikan basa ataupun olahan dengan harga 9.000 kg  X 15.000 senilai Rp. 135.000.000 atau dikonfersi dalama ikan lele olahan 1:3 sebesar 3.000 kg X Rp. 30.000 menghasilkan Rp. 90.000.000. Selanjutnya ikan mas produksi biomassa 2.100 kg dengan harga jual untuk konsumsi lokal Rp. 25.000  per kg, untuk ikan pemancingan Rp. 35.000 per kg, menghasilkan Rp. 52.500.000 dan jika dijual dipemancingan menghasilkan Rp. 73.500.000 per siklus produksi.

4.12. Perkiraan dampak sosial ekonomi kegiatan

Kegiatan budidaya ikan lele dan ikan mas  oleh UMKM Pokdakan Masagena Mitra bertujuan membangkitkan perekonomian baik secara langsung maupun secara tidak langsung bagi masyarakat sekitar dampak. Adapun dampak sosial ekonomi kegiatan ini adalah  :

-      Semakin besarnya skala produksi ikan lele dan ikan mas UMKM Mitra yang berdampak pada peningkatan pendapatan dan keuntungan usahanya secara berkesinambungan.

-      Terjalinnya hubungan yang harmonis  antara UMKM Mitra dan masyarakat sekitar kegiatan, terjadinya perputaran uang yang semakin banyak dan daya beli yang meningkat.

-      Dapat menyerap tenaga kerja lokal sekaligus mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan pendapat keluarga masyarakat desa.

-       Memicu tumbuhnya industri klaster  ikan air tawar yang lain seperti penyediaan sarana prasarana kegiatan budidaya secara luas, mengingat Kabupaten Konawe Selatan sangat potensi terhadap pengembangan ikan air tawar.

-      Dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) sebagai sharing Dana Alokasi Khusus (DAK) mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah.

-      Meningkatnya pemanfaatan lahan tidur seperti rawa dan semak, menjadi lahan  produktif.

-      Memperkuat perekonomian lokal dan secara tidak langsung memperkuat perekonomian nasional.

 

4.13. Jadwal kunjungan dan kegiatan UMKM

Jadwa pelaksanaan pekerjaan rencana penerapan teknologi kegiatan IPTEKDA XIX LIPI  Tahun 2016  pada UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta Kabupaten Konawe Slatan dengan jangka waktu 10 (sepuluh) bulan. Jadwal kunjungan secara rutin setiap hari Sabtu dan Minggu. Jadwal pelaksanaan kegiatan introduksi teknologi ini  dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

No.

Uraian

Bulan

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

1.

Persiapan kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

Penerapan Teknologi Pembuatan Water Treatmen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Penerapan teknologi pembuatan pakan murah, pembangunan instalasi dan pengolahan air, dan persiapan benih ikan lele dan ikan mas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.

Pemanfaatan hasil teknologi pembuatan pakan murah,  pembangunan instalasi dan pengolahan air, serta  pemeliharaan dan pembesaran benih ikan lele dan ikan mas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Pendampingan kegiatan penerapan teknologi pengolahan ikan lele dan ikan mas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.

Pembuatan laporan kemajuan Tahap II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Pembuatan laporan akhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.14. Bimbingan teknis/ pelatihan

Untuk kelancaran pelaksanaan program penerapan teknologi IPTEKDA LIPI Tahun 2016 ini maka telah dilaksanakan kegiatan pelatihan alih teknologi pembuatan pakan murah dan instalasi pengolahan dan pengelolaan air media, teknik pemberian pakan, teknik pemeliharaan dan kontroling, teknik pengendalian hama dan penyakit ikan, dan teknologi pembuatan produksi ikan olahan berkualitas tinggi. Kegiatan pelatihan diwajibkan bagi penerima program Iptekda LIPI tahun 2016 pada UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan.

 

4.15. Bantuan yang diberikan

     Bantuan yang akan diberikan berupa bantuan teknik, manajemen usaha, manajemen keuanagan, dan bantuan berupa modal usaha. Bantuan teknik meliputi pemilihan peralatan dan bahan sesuai spek yang ditetapkan/ ditentukan, teknik pembuatan water treatment, teknik pembuatan pakan larva, dan teknik pencegahan masuknya organisme patogen atau mahluk mikro penyebab penyakit. Bantuan teknik lainnya meliputi teknik pemilihan dan penanganan benih ikan mas dan ikan lele, penangan pakan, penangan kualitas air, kontroling proses pembesaran dan pendampingan teknologi olahan ikan serta kemasan prodak, dan  pemasaran asil produksi.

Bantuan manajemen usaha meliputi strategi penentuan keputusan produksi dan pasar, Produksi meliputi manajemen kualitas air, penanganan pakan dan manajemen kesehatan ikan. Manajemen pengelolaan keuangan berupa tekni pembuatan pembukuan, administrasi keuangan, pembuatan neraca, dan analisis rugi laba.

Bantuan modal usaha berupa pembiayaan pengadaan peralatan dan bahan pembuatan pakan murah, perbaikan saluran dan pematang, pengolahan ikan, dan kegiatan pelatihan.

 

4.16. Pemasaran hasil produksi

Berdasarkan pengalaman UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta selama ini produksi ikan lele dan ikan mas masih dalam pasar lokal, termasuk yang datang dari luar daerah untuk membeli ikan. Selain menjadi ikan konsumsi juga dipasarkan dalam keadaan hidup khususnya ikan mas pada lokasi pemancingan di Kecamatan Konda.

Ikan lele sangat banyak dipesan pada rumah-rumah makan baik restoran maupun rumah makan tenda yang beroperasi pada malam hari. Pasar ikan mas juga dipasar lokal yang dipesan oleh para agen dan pedagang eceran. Potensi pasar terbesar bagi UMKM ini meliputi Kota Kendari, Bombana, Konawe, Konawe Selatan, dan Kolaka.

Khusus pasar ikan olahan akan dijual pada berbagai minimarket di Kota Kendari dan sekitarnya, pasar domestik, dan oleh-oleh antar kota.

V. PELAKSANAAN USAHA DAN KEMAJUAN PEKERJAAN

5.1. Tahapan Pelatihan dan Pemantapan Kegiatan

Kegiatan pelatihan dilaksanakan sebanyak 2 tahapan yaitu tahapan pertama tentang standardisasi pemilihan bahan baku dan tata cara pembuatan pakan ikan lele dan ikan mas. Tahapan kedua pelatihan pengendalian kualitas air media budidaya berdasarkan tahapan pertumbuhan ikan mulai dari benih, gelondongan, dan pembesara.  Pada pelatihan tahap dua ini juga diajarkan materi pengolahan ikan lele dalam bentuk kerupuk ikan lele, abon ikan lele dan juga bentuk keripik. Olahan ikan lele ini dimaksudkan untuk memperbanyak keaneka ragaman bentuk pangan dari ikan serta menumbuh kembangkan minat masyarakat mengkonsumsi pangan yang bersumber dari bahan ikan. Pelatihan lanjutan kegiatan penerapan teknologi pakan murah, penanganan mutu air media budidaya ikan, produksi olahan ikan lele dan manajemen pemasaran dilaksanakan guna meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan pembudidaya ikan air tawar. Teknologi pakan murah tetap memperhatikan kandungan dan nilai gizi makanan ikan untuk mewujudkan pertumbuhan ikan secara optimal. Walaupun bahan baku cukup murah namun kandungan nutrisi tetap terpenuhi seperti kadar protein, karbohidrat, lemak, vitamin mix, dan mineral mix. Standardisasi pakan ditentukan oleh kandungan protein pakan buatan. Kandungan protein pakan disusun berdasarkan umur ikan peliharaan.  Semakin kecil umur ikan semakin tinggi kadar protein pakan buatan.

Kegiatan pembuatan tandon pengolahan air media budidaya ikan untuk menghasilkan kualitas air secara optimal mampu menjadi media budidaya ikan yang mampu memberikan pertumbuhan maksimal. Pelatihan pengelolaan air media budidaya memantapkan pengetahuan sifat kimia, fisika, dan biologi perairan serta kesiapan tanah menghasilkan kualitas lingkungan yang subur. Tanah dasar kolam dilakukan pengolahan secara fisik berupa pembalikan tanah dasar. Secara kimiawi dengan cara dilakukan pemupukan Nitrogen, Phosphat, dan Kalium. Untuk meningkatkan kandung nitrogen tanah dan air media ditambahkan pupuk urea.

Pelatihan pengolahan ikan lele untuk menghasilkan produk turunan yang dapat menjaga ketahana kualitas, peningkatan minat daya konsumsi masyarakat. Prinsip syarat pangan produk perikanan yang dapat diminati oleh konsumen yaitu mengandung nilai gizi yang menyehatkan, performa menarik, bau khas aromatik, rasa gurih dan sedap, ada sertifikasi, dan halal.

Secara garis besar materi pelatihan kegiatan penerpan teknologi tahap II ini adalah sebagai berikut  :

a.    Teknologi pengolahan bahan baku dan proses produksi pakan buatan.

-          Pemilihan bahan baku berkualitas seperti yang sudah direncanakan.

-          Formulasi pakan dengan standar nutrisi (protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral) sesuai umur benih yang dibesarkan.

-          Penggunaan peralatan pencetakan pellet dan maintenance alat.

b.         Teknologi pengolahan tanah dasar  kolam dan kesadahan perairan.

-          Kapur, pupuk, pengapuran dan kegiatan pemupukan.

-          Pembentukan tekstur tanah dan kesadahan air media budidaya

-          Penumbuhan pakan alami dan penyeimbangan ekosistem kolam ikan.

c.          Teknologi pengolahan air media budidaya.

-          Menentukan tipe air yang akan diolah

-          Struktur fisik tandon pengolahan air media budidaya

-          Komposisi kimiawi kelayakan budidaya ikan di kolam

-          Indikator biologi  syarat mutlak keberhasilan budidaya ikan di  kolam

d.         Teknologi pengolahan ikan

-          Studi konsumen dan manajemen pasar ikan olahan

-          Penentuan produk olahan dan pemilihan teknologi.

-          Peralatan dan bahan, operasional dan pemeliharaannya.

-          Kemasan produksi dan sistem kemasan yang dipilih

Kegiatan pelatihan dilakukan sesuai dengan kemajuan kegiatan usaha budidaya ikan air tawar. Kegiatan pendidikan dan latihan keterampilan ini disajikan pada Gambar 5.

 

Gambar 5. Sosialisasi kegiatan penerapan teknologi dan kelompok diskusi petani ikan

 

5.2. Teknologi Pembuatan Pakan Ikan

5.2.1. Pengadaan mesin penepung, pencetak pellet, dan pembuatan pakan

a. Mesin pembuatan tepung

Mesin pembuatan tepung bahan baku pembuatan pakan ikan berupa pellet, untuk memudahkan kegiatan operasional. Jika bahan baku tepung digiling pada jasa penggilingan maka akan terhambat oleh waktu, materi, dan tenaga yang akan mengurangi efektifitas pembuatan pakan ikan. Jasa penggilingan tepung yang digunakan oleh masyarakat merupakan kebutuhan makanan manusia, jadi tidak pantas digunakan sebagai bahan pakan ikan.

Mesin pembuatan tepung bahan baku pakan ini dapat distel tingkat kehalusan bahan, sehingga layak untuk sebuah mini industri pembuatan pakan ikan. Industri pembuatan pakan ini secara bertahap akan menerima pesanan pembuatan bahan baku pakan anggota kelompok lainnya di daerah. Mesin penepung ini digunakan menghaluskan kembali dedak yang dianggap masih kasar sebagai bahan pakan benih ikan. Daging keong emas dapat digiling dalam kondisi basah segar dan kondisi kering. Penggilingan kondisi basa untuk memudahkan pengeringan, hingga mudah dibuat tepung halus.Pembuatan tepung ikan segar, mampu mempertahankan protein dan kandungan bahan asam amino. Pada kegiatan ini ikan yang digunakan sebagai bahan pembuatan tepung adalah ikan sembilan dari hasil tangkapan nelayan menggunakan alat tangkap sero. Ikan ini kurang disukai oleh masyarakat karena memiliki duri gergaji yang sangat tajam. Sering melukai jika disentuh tangan, atau tidak sengaja menyentuhnya. Pembuatan tepung jagung sebagai bahan pembuatan pakan ikan mas, bawal, nila, dan ikan gurami. Tepung jagung memiliki kandungan karbohidrat yang baik bagi pertumbuhan ikan. Juga mengandung protein dan lemak walaupun sedikit, tapi baik bagi sistem pencernaan ikan peliharaan. Ubi kayu sebagai bahan tapioka juga dapat digiling dalam kondisi basah atau kering tergantung cuaca di alam.

Mesin pembuatan tepung bahan pakan ikan ini sangat bermanfaat, karena selain mudah digunakan juga bias menyesuaikan kehalusan tepung, dan dapat memproduksi dalam jumlah maksimal. Mesin penepung yang digunakan pada industri  Pokdakan Masagena ini disajikan pada Gambar 6 berikut  :

 

Gambar 6. Mesin pembuatan tepung ikan, jagung, tapioka, dedak, dan keong emas

 

b.   Mesin pembuatan pakan

Kalangan pembudidaya ikan kata pellet merupakan pakan ikan yang terdiri dari pakan benih (crumble), gelondongan (ukuran kecil), dan pembesaran (pellet). Mesin pencetak pakan ini terdiri dari berbagai kapasitas produksi tergantung skala industri yang menggunakan. Karena mesin digunakan kelompok tani maka kapasitas mesin disesuaikan dengan kemampuan listrik dirumah kelompok atau genset dan mesin penggerak lainnya. Karena sumber listrik cukup jauh dari sumber listrik dan tidak memiliki travo khusus di lokasi industri maka mesin penggerak digunakan 1 pk, dengan kapasitas 30-50 kg/ jam.  Sebelum mesin pencetak pellet dioperasikan maka dilakukan persiapan stand/ dudukan dynamo (A) dan pemasangan cetakan serta pemotong pakan sesuai ukuran pellet yang dicetak (B), dan selanjutnya siap dioperasikan (C) (Gambar 7).

A

B

       Gambar 7.  Mesin pencetak pellet pakan ikan siap digunakan

c.     Pembuatan pakan ikan

Untuk  menghasilkan pakan yang berkualitas dan biaya lebih murah maka perlu pengetahuan cara-cara pemilihan dan bahan-bahan pembuatan pakan ikan. Bahan pembuatan pakan hendaknya memiliki kandungan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Banyak sumber bahan tersebut yang terdapat di alam sekitar kita untuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan.

Tepung dedak, jagung, tapioka, keong emas, dan ikan kering digiling sampai halus untuk memudahkan dalam proses pencernaan ikan.  Pembuatan tepung ikan segar, mampu mempertahankan protein dan kandungan bahan asam amino. Pada kegiatan ini ikan yang digunakan sebagai bahan pembuatan tepung adalah ikan sembilan dari hasil tangkapan nelayan menggunakan alat tangkap sero. Ikan ini kurang disukai oleh masyarakat karena memiliki duri gergaji yang sangat tajam. Sering melukai jika disentuh tangan, atau tidak sengaja menyentuhnya. Pembuatan tepung jagung sebagai bahan pembuatan pakan ikan mas, bawal, nila, dan ikan gurami. Tepung jagung memiliki kandungan karbohidrat yang baik bagi pertumbuhan ikan. Juga mengandung protein dan lemak walaupun sedikit, tapi baik bagi sistem pencernaan ikan peliharaan. Ubi kayu sebagai bahan tapioka juga dapat digiling dalam kondisi basah atau kering tergantung cuaca di alam.

Untuk mengetahui mekanisme pembuatan tepung ini maka disajikan sebagai berikut  :

§  Pembuatan tepung ikan

Proses pembuatan tepung ikan pada kegiatan penerapan Iptekda LIPI cukup sederhana sehingga mudah dilakukan oleh UMKM Pokdakan Masagena. Ikan kurang ekonomis hasil tangkapan nelayan sero dikumpulkan dan dibersihkan dari kotoran yang menempel untuk menjaga higienis dan kualitas bahan. Ikan diberi garam mineral untuk menghindari mikroorganisme pembawa penyakit. Ikan selanjutnya dipindahkan ke wadah kukusan untuk dimatangkan setengah jadi. Berikutnya ikan didinginkan dan segera digiling basah untuk meudahkan dikering anginkan. Untuk mengurangi kadar air bahan maka dapat dilakukan oven jika sinar matahari terganggu. Jika bahan-bahan ini sudah kering maka langsung dilakukan penepungan, dan dikemas dalam karung atau kantong plastik sambil menunggu bahan baku lainnya siap dicampur jadi pellet. Tepung ikan yang sudah jadi disimpan pada tempat kering yang tidak lembab. Tepung ikan ini tidak disimpan pada tempat yang mudah dijangkau oleh semut atau hewan pemakan lainnya. Tepung ikan dipertahankan kandungannya terutama protein dan asam lemak agar pertumbuhan ikan peliharaan maksimal.

 

§   Proses pembuatan tepung tapioka

Tapioka adalah tepung yang bahan bakunya terbuat dari ubi kayu segar. Ubi kayu hasil pertanian dipisahkan dari kulit kotor untuk menghindari kontaminasi tanah dan kotoran lainnya. Ubi kayu dibersihkan dengan air tawar untuk segre dilakukan penggilingan. Hasil gilingan di tamping pada nyiru atau tempayan lainnya untuk dijemur pada sinar matahari. Jika sudah kering maka dilakukan penggilingan tepung tapioka untuk siap dicampur dengan bahan lainnya.  

§   Pembuatan tepung keong  mas

Keong mas di alam banyak dijumpai di sawah, saluran air, dan bahkan pada air tergenang yang banyak mengandung bahan nutrien dari golongan tumbuhan. Keong mas menjadi salah satu hama padi yang ditakuti petani selain tikus, burung, dan wereng.  Keong mas salah satu  bahan pembuatan pakan yang memiliki kandungan protein sebesar 51 %. Berdasarkan pengelaman selama menangkap keong mas untuk mendapatkan dalam jumlah banyak selain dikumpulkan di sawah dan saluran air dapat dengan membuat rumpon keong. Rumpon keong mas dengan mengikat dan menyusun tumpukan daun gamal atau daun pepaya di sekitar habitat keong mas. Jika rumpon tadi dipasang sore hari maka 2-3 hari berikutnya (pagi) akan ditemukan kerumunan keong mas sedang memakan daun yang mau lapuk. Dengan demikian tidak susah untuk mencarinya, tinggal dikumpulkan dan masukan dalam karung.

Untuk menguatkan struktur daging keong mas maka direndam dalam air panas, selanjutnya dipecahkan cangkangnya dan dipisahkan dagingnya. Daging keong dibersihkan dari cangkang dan dilakukan penjemuran pada sinar matahari. Jika sinar matahari cerah maka 2-3 hari keong sudah dapat digiling menjadi tepung.

 

§  Pembuatan tepung jagung

Jagung sebagai bahan pakan ikan biasanya jagung kuning yang mengandung kadar protein hingga 11 %. Jagung pipilan dapat diperoleh dari hasil pertanian atau toko yang menjual pakan ternak. Jagung digiling hingga halus untuk memudahkan sistem pencernaan ikan air tawar yang dipelihara. Jagung yang dipilih yaitu segar belum lama dilakukan pemanenan.

§  Pembuatan tepung bungil kelapa.

Bungkil kelapa didapatkan dari pembuatan minyak tradisional yang banyak ditemui dipesisir dengan tanaman kelapa. Bungkil kelapa dperoleh disekitar lokasi kegiatan cukup mudah dijangkau. Bungkil dikumpulkan ditempayan atau nyiru, dijemur dan dikering anginkan. Bungkil ini juga berfungsi sebagai sumber lemak pakan yang baik untuk penggemukan ikan peliharaan. Bungkil dapat dilakukan penggilingan kembali jika masih kasar, dapat juga langsung dicampur dengan bahan lainnya siap cetak.

§  Vitamin dan mineral

Vitamin dapat diperoleh pada apotik terdekat atau di Kota Kendari yang banyak ditemukan. Vitamin yang digunakan berupa vitamin B komp, A, C, dan K.  Komponen dalam pakan paling banyak 5 %. Mineral sebagai bahan pakan ini berupa mineral miks yang didapatkan di apotik terdekat. Mineral yang diberikan berupa garam mineral yang komposisinya paling banyak 5 %.

 

5.2.2. Pembuatan pellet sebagai pakan ikan

Standar prosedur pembuatan pakan ikan mengacu pada kandungan protein dan harga pakan ikan yang lebih bernilai ekonomi. Kadar protein pakan buatan disesuaikan umur ikan yang akan dipelihara. Semakin muda umur benih maka semakin tinggi kadar protein pakan. Pada penerapan teknologi pembuatan pakan ini dan menghasilkan nilai ekonomi tinggi protein mengandung 31,53 % untuk ikan lele dan 31,73 % untuk pakan ikan mas. Sebenarnya masih ada kandungan gizi lainnya yang perlu dihitung, yaitu karbohidrat dan lemak. Namun tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah protein. Untuk mengetahui komposisi pakan  dan harga pakan per kg hasil program Iptekda XIX Tahun 2016 ini disajikan pada Tabel-tabel di bawah ini :

Tabel 3. Komposisi bahan pakan untuk ikan lele

No.

Formulasi bahan

Jumlah

Jumlah/

100

Kandung protein tiap bahan (%)

Kandungan protein (%)

1

Dedak (%)

40

0,4

12

4,8

2

Tepung ikan (%)

20

0,2

52

10,4

3

Tepung keong mas (%)

30

0,3

51

15,3

4

Tepung tapioka(%)

5

0,05

2

0,1

5

Tepung bungkil kelapa (%)

5

0,05

18,6

0,93

Total  kandungan protein pakan

31,53

 

Perhitungan biaya pembuatan pakan ikan mas berdasarkan formulasi berikut untuk mengetahui biaya untuk 1 kg disajikan pada Tabel 2.

Tabel 4. Biaya pembuatan pakan ikan lele per 1 kg

No.

Formulasi bahan

Jumlah

Jumlah/

100

Harga (Rp)

Total harga (Rp)

1

Dedak (%)

40

0,4

2.000

800

2

Tepung ikan (%)

20

0,2

1.0000

2.000

3

Tepung keong mas (%)

30

0,3

4.000

1.200

4

Tepung tapioka(%)

5

0,05

5.000

350

5

Tepung bungkil kelapa (%)

5

0,05

5.000

250

Total  harga  pakan

4.500

 

Jadi biaya yang dibutuhkan pembuatan pakan (protein 31,53%)adalah Rp. 4.500,-, sedangkan pakan di pasaran dengan protein lebih rendah (28%) dijual dengan harga Rp. 10.000  (catatan :selain biaya penyediaan bahan, juga ada biaya produksi. Biaya ini diperkirakan Rp. 100,-/kg).(selisih 5.400/kg pakan atau dapat berhemat 54 % biaya).

 

 

 

 

 

 

Tabel 5. Komposisi bahan pakan untuk ikan mas

No.

Formulasi bahan

Jumlah

Jumlah/

100

Kandung protein tiap bahan (%)

Kandungan protein (%)

1

Dedak (%)

20

0,2

12

2,4

2

Tepung jagung

20

0,2

13

2,6

3

Tepung ikan (%)

20

0,2

52

10,4

4

Tepung keong mas (%)

30

0,3

51

15,3

5

Tepung tapioka(%)

5

0,05

2

0,1

6

Tepung bungkil kelapa (%)

5

0,05

18,6

0,93

Total  kandungan protein pakan

31,73

 

Perhitungan biaya pembuatan pakan berdasarkan formulasi berikut untuk mengetahui biaya pembuatan untuk 1 kg disajikan pada Tabel 4.

 

Tabel 6. Biaya pembuatan pakan ikan mas per 1 kg

No.

Formulasi bahan

Jumlah

Jumlah/

100

Harga (Rp)

Total harga (Rp)

1

Dedak (%)

20

0,2

2.000

400

2

Tepung jagung

20

0,2

5.000

1.000

3

Tepung ikan (%)

20

0,2

10.000

2.000

4

Tepung keong mas (%)

30

0,3

4.000

1.200

5

Tepung tapioka(%)

5

0,05

5.000

250

6

Tepung bungkil kelapa (%)

5

0,05

5.000

250

Total  harga  pakan

5.100

 

Jadi biaya yang dibutuhkan pembuatan pakan (protein 31,73%) adalah Rp. 5.100,-, sedangkan pakan di pasaran dengan protein lebih rendah (28%) dijual dengan harga Rp. 10.000  (catatan : selain biaya penyediaan bahan, juga ada biaya produksi. Biaya ini diperkirakan Rp. 100,-/kg).(selisih 4.800/kg pakan atau dapat berhemat 48 % biaya).

Adapun proses pembuatan pellet ikan sebanyak 50 kg sebagai berikut :

1.      Menimbang tepung dedak halus 10 kg

2.      Menimbang tepung jagung halus 10 kg.

3.      Menimbang tepung ikan 10 kg

4.      Menimbang tepung keong mas 15 kg

5.      Menimbang tepung tapioka 2,5 kg

6.      Menimbang tepung bungkil kelapa 2,5 kg.

7.      Menakar minyak ikan secukupnya

8.      Menimbang vitamin miks 20 g

9.      Menimbang mineral miks 20 g

Semua bahan pakan dicampur secara merata kedalam baskom besar hingga homogeny. Pencampuran dipastikan telah merata ditandai dengan tidak dapat membedakan lagi bahan-bahan pakan tersebut. Prosedur berikutnya sebagai berikut :

a.          Memisahkan ¼ bagian atau 12,5 kg untuk dibuat pasta. Pembuatan pasta dengan menggunakan air.

b.         Sebelum air digunakan terlebih dahulu diberi ragi roti sebanyak 50 gram untuk fermentasi dan mengatur performa pakan.

c.          Setelah pasta terbentuk, maka ¾ bagian lainnya dicampur hingga homogeny.

d.         Pencetakan pakan dimulai dengan menyiapkan semua wadah pengeringan dan kemasan lainnya.

Adapun prosedur pembuatan dan penanganan pellet tersebut disajikan pada Gambar 8.

 

 

Gambar 8. Proses pembuatan pakan ikan pada penerpan teknologi Iptekda LIPI 2016.

5.2.3. Pembuatan tandon air

Tandon air adalah bangunan bak dengan konstruksi beton cor sebagai wadah pegolahan air media melalui kegiatan penyaringan, pengendapan dan sistem agitasi air melalui pengaruh grafitasi bumi. Tandon air dilengkapi sekat-sekat atau blok saringan pecahan kerikil besar dan kecil, pecahan karang mati (ruber) dan pasir kasar. Tandon air dengan kapasitas 20 ton akan mampu digunakan oleh UMKM mengolah air secara rutin.

Sistem tandon dan penyaringan air akan bermanfaat memperbaiki mutu air terhadap kebutuhan aspek fisika, kimiawi, dan biologi pertumbuhan terutama ikan yang berumur sangat muda. Air yang sudah ditreatment menjadi segar dan dapat memperbaiki performa ikan peliharaan. Untuk melihat dan mengetahui lebih detail proses pembuatan tandon air tersebut disajikan pada Gambar 9.

 

 

        

Gambar 9. Proses pembuatan tandon dan saringan pengolahan air media budidaya ikan

5.2.4. Pembuatan sumur bor/ artesis

Kebutuhan air yang sehat dalam jumlah yang cukup sepanjang tahun mutlak dibutuhkan oleh pembudidaya ikan air tawar UMKM Pokdakan Masagena desa Rakawuta kabupaten Konawe Selatan. Mengingat lingkungan sumber daya air  tawar  yang semakin menurun maka penting dilakukan antisipasi untuk memenuhi kebutuhan air sepanjang tahun. Debit air dimusim kemarau cukup kecil sehingga diperlukan sumber air baru yang dapat digunakan untuk kegitan budidaya ikan air tawar.

   

Gambar 10. Proses pembuatan sumur bor/ artesis

 

5.2.5. Pembuatan instalasi pengolahan air

Instalasi pengolahan air adalah rangkaian sistem unit-unit pengelolaan air untuk menghasilkan kualitas air prima dalam usaha budidaya ikan air tawar.  Rangkaian pengolahan air tawar untuk menghasilkan faktor fisik, kimia dan biologi perairan yang mampu menghasilkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan secara maksimal. Perlakuan fisik air ini untuk memisahkan partikel debu, lumpur, dan pasir halus. Partikel-partikel tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan ikan terutama ukuran benih. Partikel lumpur dan debu apat menyumbat selaput insang hingga menghalangi insang meyerap oksigen dalam sistem pernapasan.

Perlakukan fisik seperti sistem air jatuh merupakan perlakuan agitasi air yang mampu mengikat oksigen dalam jumlah besar (pekat) sehingga air tawar menjadi sangat segar. Air jatuh dapat menghemat energi dalam sistem alokasi air budidaya disetiap unit-unit pembesaran. Secara sederhana sistem pengolahan air tawar ini disajikan pada Gambar 11.

 

Gambar 11. Sistem pengolahan air tawar untuk menghasilkan kualitas air budidaya ikan.

 

 

5.2.6. Penebaran benih ikan

Penebaran benih ikan lele dan ikan mas masing-masing 16.000 ekor dan 3.800 ekor pada Tujuh petak kolam. Penebaran benih dilakukan pada sore hari untuk menghindari benih stress. Benih ikan lele dan ikan mas ditebar secara bersamaan pada 7 petak kolam yang luasnya berbeda. Ikan lele ditebar masing-masing petak 4.000 ekor sebanyak 4 petak berukuran masing-masing 30 m x 20 m. Sedangkan ikan mas sebanyak 3 petak ukuran 20 m x 15 m dengan kepadatan per petak 1.266 ekor.

 

Gambar 12. Benih ikan lele dan ikan mas siap ditebar di kolam pembesaran

Setelah kurang lebih berumur 1 bulan ikan lele dilakukan sampling dan sudah mencapai ukuran 24 ekor/ kg dan dilakukan penjarangan.

5.2.7. Produksi ikan lele dan ikan mas

 

Produksi ikan lele dan ikan mas selama 2 kali musim tebar telah memberikan hasil yang menggembirakan. Kedua jenis ikann tersebut terkenal karena mudah dibudidayakan. Masing-masing memiliki keunggulan spesifik. Ikan lele dapat dipelihara dengan kepadatan tinggi, jika air media tidak mengalir atau air tergenang maka akan berbau amis, maka untuk mengatasinya diperlukan sistem air mengalir. Khusus budidaya ikan mas dilakukan dengan sistem air megalir dan diberi pakan berkualitas. Dalam penerapan iptekda  ini     secara bertahap telah memperlihatkan peningkatan tren baik skala produksi maupun cara-cara penerapan ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan produksi budidaya ikan lele dan ikan mas dipelihara selama 3-4 bulan dengan tahapan sebagai berikut  :

Produksi tahap pertama April-Juli

Produksi tahap ini diuji cobakan ikan lele sebanyak 2000 ekor dan ikan mas sebanyak 1.930 ekor benih.

Produksi sebelum penerapan teknologi (kg)

Produksi setelah penerapan teknologi (kg)

Ikan lele

Ikan mas

Ikan lele

Ikan mas

180

92

300

217

 

Produksi tahap kedua Juli-Oktober 2016

Produksi tahap ini diuji cobakan ikan lele sebanyak 12000 ekor dan ikan mas sebanyak 3920 ekor benih menghasilkan produksi  ikan lele konsumsi sebesar 1,46 ton dan ikan mas sebanyak 448 kg.  Meningkatnya jumlah produksi ikan lele dan ikan mas karena suplai pakan bermutu sudah dilakukan secara kontinyu dalam jumlah yang cukup dan diberikan secara teratur. Peningkatan produksi juga didukung oleh suplai air secara teratur dan telah dilakukan pengolahan yang sangat mendukung pertumbuhan terutama difase jufenil.

 

5.2.8. Pembuatan ikan olahan

Program pengolahan ikan lele pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah Pokdakan Masagena desa Rakawuta kabupaten Konawe Selatan merupakan upaya pencapaian difersifikasi pangan dimana konsumsi ikan lele masyarakat masih sangat terbatas. Keterbatasan minat masyarakat ini karena belum mengacu pada pemanfaatan keanekaragaman sumberdaya hayati untuk mewujudkan ketahanan pangan masyarakat. Pada kegiatan penerapana Iptekda LIPI XIX tahun 2016 ini difokuskan pada pembuatan abon ikan lele dan pembuatan kerupuk. Dua bentuk prodak ini cukup diminati karena rasa dan performa dapat disesuaikan dengan selera konsumen.

1)         Pembuatan abon ikan

Abon ikan adalah jenis makanan awetan yang terbuat dari ikan tertentu yang diberi bumbu, diolah dengan cara perebusan dan penggorengan. Produk yang dihasilkan mempunyai bentuk lembut, rasa enak, bau khas, dan mempunyai daya simpan yang relatif lama.

Proses Produksi

Proses produksi abon ikan lele relatif sederhana dan mudah dilakukan. Secara umum, proses produksi abon ikan, mulai dari tahap pengadaan bahan baku ikan dan bumbu atau rempah sampai tahap pengemasan abon ikan lele, adalah sebagai berikut :

-       Pengadaan bahan baku

Bahan baku yang digunakan adalah ikan lele yang masih utuh dan segar, untuk selanjutnya dilakukan proses penyiangan. Ikan lele berukuran 1-3 ekor per kg, agar tekstur daging tidak lembek pada saat dilakukan pengukusan atau perebusan.

-    Penyiangan bahan baku

Pada proses penyiangan yaitu pemotongan ikan dan pencucian daging ikan, maka bagian kepala dan isi perut ikan dibuang. Daging ikan hasil tahap penyiangan direndan dalam air yang dicampur dengan air asam. Kadar air asam yang dipakai adalah ±2%. Ini dilakukan untuk membuat bau amis hilang. Selain menggunakan asam bau amis pada ikan lele juga bias dengan kunyit dapat juga dihilangkan dengan menambah serai pada bumbu abon.

-                Perebusan

Potongan ikan yang telah direndam dalam air asam kemudian disusun ke dalam panci besar  dan dikukus atau direbus selama 30 – 60 menit. Proses perebusan akan dihentikan setelah daging ikan menjadi lunak. Selama proses perebusan tersebut juga ditambahkan daun salam dan garam rebus.

-                Penirisan I

Ikan yang telah direbus kemudian dipres dengan peralatan pengepres. Sebelum dipres, daging ikan tersebut sebaiknya ditiriskan terlebih dahulu sekitar 5 – 10 menit. Tahap pengepresan bertujuan untuk mengurangi kadar air pada daging ikan yang telah direbus. Makin sedikit kadar air yang dikandung dalam daging, maka akan makin baik pula serat-serat daging yang dihasilkan.

-                Pencabikan I

Setelah daging ikan dipres, kemudian dilakukan proses pencabikan sampai menjadi serat.-serat. Proses ini bisa dilakukan dengan tangan atau dengan mesin pencabik (giling).

-                Pemberian Bumbu

Pada tahap ini, serat-serat daging hasil pencabikan ditambahkan bahan-bahan pembantu (bumbu-bumbu). Bumbu-bumbu yang ditambahkan terdiri dari : bawang putih, ketumbar, lengkuas yang telah diparut dengan mesin parutan, gula pasir, garam dapur, serai,minyak goreng dan bisa juga ditambahkan daun  kari, untuk memberikan rasa kari pada abon lele. Untuk mengetahui lebih jelas pembuatan abon ikan pada penerapan Iptekda LIPI ini disajikan pada Tabel 7 di bawah ini.

Bahan-Bahan Pembuatan Abon

Peralatan yang Digunakan

Daging ikan lele 50 kg

Baskom

Gula merah 13 kg

Pisau

Gula pasir  5 kg

Piring

Lengkuas  12 kg

Wajan

Sereh gemuk  50 btg

Gelas takar

Daun salam 50 lembar

Timbangan

Ketumbar  0,3 kg

Panci kukusan

Bawang putih 120 g

Sendok

Bawang merah 1,2 kg

Kompor

Jahe 0,5 kg

Spatula

Asam 0,6 kg

Saringan

Garam secukupnya

Blender

Minyak goreng 10 k

Alat sealing dan plastik kemasan

 

 

 

-          Penggorengan

Setelah bumbu-bumbu tercampur secara merata dalam serat-serat daging ikan, kemudian dilakukan penggorengan sekitar 60 menit. Selama proses penggorengan, secara terus menerus dilakukan pengadukan agar abon ikan yang dihasilkan matang secara merata dan bumbu-bumbu dapat meresap dengan baik. Tahap penggorengan ini akan dihentikan setelah serat-serat daging yang digoreng sudah berwarna kuning kecoklatan.

-          Penirisan II

Tahap produksi berikutnya adalah pengepresan kembali serat-serat daging ikan yang telah digoreng. Proses pengepresan tahap kedua ini bertujuan untuk mengurangi kadar minyak pasca proses penggorengan.

-          Pencabikan II

Setelah dipres, kemudian dilakukan pencabikan tahap kedua agar tidak terjadi penggumpalan. Proses pencabikan tahap kedua ini akan dihentikan setelah terbentuk produk akhir berupa abon ikan dengan tekstur yang seragam. Abon hasil penggorengan yang telah selesai dicabik secara merata disajikan pada Gambar 13.

 

               Gambar 13. Abon ikan lele hasil penggorengan yang siap dikemas.

-          Pengemasan

Pada tahap akhir produksi dilakukan pengemasan abon ikan lele. Jika pengemasan tidak langsung dilakukan, maka produk abon ikan akan disimpan terlebih dahulu dalam kantung plastik besar (blong) di gudang penyimpanan, sebelum dilakukan pengemasan. Hasil kemasan abon ikan lele pada kegiatan UMKM Pkdakan Masagena  ini telah dipamerkan pada kegiatan Forkom Iptekda LIPI Tahun 2016 bertempat di LPPM Universitas Hasanuddin Makassar tanggal 19 November 2016.

 

 

 

Gambar 14. Produksi abon ikan lele yang telah dikemas.

 

2)         Pembuatan kerupuk 

Pembuatan kerupuk ikan lele merupakan salah satu potensi pengembangan ekonomi petani pembudidaya ikan. Kegiatan ini penting mengingat bahan bakunya mudah didapatkan karena dapat dilakukan budidaya oleh banyak kalangan. Kerupuk ikan lele belum ditemukan beredar di pasaran,  karena belum dipopulerkan. Prinsip pembuatan kerupuk ikan lele prinsipnya sama dengan pembuatan kerupuk lainnya yaitu bahan-bahannya diikat dengan tepung beras atau tepung singkong. 

Bahan-Bahan Pembuatan Abon

Peralatan yang Digunakan

Ikan lele segar  15 kg

Baskom

Tepung ketan 7,5 kg

Pisau

Telur ayam 60 butir

Piring dan sendok

Bawang merah 1,5 kg (haluskan)

Gelas takar

Bawang putih 1,5 kg (haluskan)

Timbangan

Garam dapur 60 sendok makan

Panci kukusan

Gula pasir sendok makan 60 sendok makan

Blender

Kaldu bubuk 60 sendok makan

Alat titris dan plastik kemasan

 

Kompor

Prosedur pembuatan kerupuk ikan lele adalah sebagai berikut  :

1.      Pembersihan ikan lele dari insang, usus, dan kepala.

2.      Ikan lele dibilas dengan air bersih hingga bebas kotoran dan darah.

3.      Daging ikan lele dikukus hingga dapat dipisahkan daging dan tulang.

4.      Daging ikan lele yang sudah terpisah dari tulangnya dipindahkan kebaskom pencampuran.

5.      Masukan telur ayam, bawang merah, bawang putih, garam dapur, gula pasir dan kaldu bubuk.

6.      Semua bahan dicampur secara hingga benar-benar homogen.

7.       Masukan tepung beras ketan dan aduk secara merata,

8.      Agar kerupuk memiliki daya renyah maka adonan dapat dicampur tepung singkong.

9.      Lakukan pencampuran secara merata.

10.  Jika kerupuk yang kita inginkan berbentuk bundar maka masukan dalam kantong plastik es yang kecil, padatkan, ikat, dan masukan dalam panci kukusan.

11.  Jika ingin bentuk persegi maka adona, dapat dipadatkan dengan pipa kecil dan bersih, bentuknya pipih, iris merata sesuai ukuran persegi.

12.  Kukus hingga tanak, dan lakukan penjemuran hingga kering.

13.  Kerupuk digoreng, dititris dan siap dikemas.

 

 

 

 

Gambar 15. Kerupuk ikan lele rasa gurih dan renyah

3)      Pembuatan kripik ikan lele

Kripik ikan lele, memiliki prospek  cukup menggiurkan, selain mengatasi masalah pemasaran ikan lele mentah juga dapat mengatasi harga yang rendah dan mendapat untung tambahan dari kreatifitas pembuatan kripik ikan lele ini. Berikut adalah cara mengolah ikan lele menjadi kripik ikan lele yang enak dan lezat :

             Pertama,  siapkan alat alat sebagai berikut :

-       Pisau tajam (secukupnya)

-       Baskom

-       Nampan

-       Kompor siap pakai

-       Wajan 

-       Beberapa peralatan lainnya

Kedua,  siapkan bahan-bahanya sebagai berikut :

-       bahan utama 15 kilo ikan lele 

-       tepung ketan  5 kg

-       bawang merah 1,5 kg (haluskan)

-       bawang putih 1,5  kg (haluskan)

-       kunyit secukupnya

-       ketumbar secukupnya

-       daun salam secukupnya

-       Kaldu bubuk secukupnya

Ketiga,  cara mengolahnya adalah sebagai berikut  :

-        Ambil beberapa ikan lele segar, keluarkan semua isi perutnya dan cuci sampai bersih.

-       Iris tipis-tipis ikan lele dengan menggunakan nampan dan pisau yang tajam agar hasil irisan menjadi tipis dan bagus.

-       Haluskan bumbu-bumbu diantaranya, bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar dan daun salam hingga benar benar halus.

-       Campur penyedap rasa dengan bumbu yang telah dihaluskan secukupnya hingga rata.

-       Campur bumbu yang sudah disiapkan tadi kedalam irisan ikan lele tadi hingga rata, dan diamkan 10 hinggal 15 menit agar bumbu meresap kedalam irisan ikan lele tadi.

-       Setelah bumbu meresap kedalam irisan ikan lele tadi, campur irisan ikan lele tadi dengan tepung tapioka hingga mereta.

-       Goreng ikan lele tadi hingga kuning dan tiriskan.

-       Diamkan hingga 12 jam dan goreng kembali agar menjadi lebih krispi dan renyah.

-       Kripik siap disantap maupun di kemas dan dipasarkan.

Kripik ikan lele hasil produksi disajikan pada gambar berikut  :

 

 

 

Gambar 16. Kripik ikan lele siap saji

 

 

 

 

 

VI. PENUTUP

Laporan hasil kegiatan Tahap Akhir penerapan teknologi pakan murah dan perbaikan kualitas air untuk mendukung intensifikasi budidaya ikan air tawar dan mendorong peningkatan nilai jual bagi UMKM Pokdakan Masagena Desa Rakawuta dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu  :

1.      Penanganan mutu air melalui kegiatan water treatment dengan penanganan secara fisik, kimia, dan biologi mampu meningkatkan jumlah penebaran benih ikan lele dan ikan mas. 

2.      Kualitas air secara optimal mampu meningkatkan daya tahan tubuh benih akibat kualitas lingkungan yang semakin baik.

3.       Pakan buatan hasil produksi dengan teknologi yang diterapkan mampu menurunkan biaya produksi yang signifikan, dengan kualitas disesuaikan.

4.      Produksi ikan lele olahan berupa abon, kerupuk, dan kripik jkan lele melahirkan nuansa baru bagi UMKM sebagai alternatif pengembangan ekonomi kelompok pembudidaya ikan air tawar.

Berdasarkan perkembangan kegiatan penerapan teknologi pakan murah dan perbaikan kualitas air untuk mendukung intensifikasi budidaya ikan air tawar dan mendorong peningkatan nilai jual bagi UMKM Pokdakan Masagena maka disarankan  :

 

Kendari,   30 November   2016.

 

 

 

Tim Pelaksana Kegiatan

 

 

 

 

 

 

Lampiran :

 

 

 

Keterangan : Foto-foto pembuatan sumur artesis/bor dan pembangunan tandon air budidaya  ikan air tawar UMKM Pokdakan Masagena

 

              

               Keterangan  : Foto-foto pencetakan pakan ikan (pellet)

   

Keterangan  : Foto-foto nyiru penjemuran pakan ikan (pellet) dan baskom pencampur

 

 

Keterangan  : Foto benih ikan mas dan benih ikan lele siap ditebar di kolam pembesaran

 

      Keterangan  : Foto kegiatan penyuluahn pembuatan dan analisis ekonomi pakan buatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan  : Foto-foto kolam pembesaran ikan mas dan ikan lele UMKM Pokdakan Masagena desa Rakawuta kabupaten Konawe Selatan sebagai Mitra IPTEKDA LIPI tahun 2016

 

        Keterangan  : Foto hasil panen ikan lele

Keterangan  : Foto pengukusan kerupuk ikan lele

 

 

 

 

 Keterangan  : Foto kerupuk ikan lele

 

 

 

 

         Keterangan  : Foto-foto kripik ikan lele

n

Comments